Minggu, 11 Oktober 2015

Makna Arsitektur Masjid As Siraj Cipadung

BAB 1
PENDAHULUAN
            Dalam kehidupan manusia tentu tidak lepas dengan hal yang berbau budaya dan agama. Acapkali dalam beberapa kasus ditemukan penggunaan sarana budaya dalam penyebaran hal-hal keagamaan, hal ini tidaklah menjadi jelek, karena beragama adalah hal yang merupakan hak asasi yang dimiliki oleh setiap orang di mana pun berada, memilih agama sesuai dengan keyakinan tidak ditentukan baik oleh orang tua atau pun oleh negara, semuanya adalah murni hak pribadi.
Khususnya umat agama Islam memiliki tempat peribadatan yang seringkali disebut masjid, masjid biasanya berupa bangunan yang lapang, bersih, memiliki mimbar[1], memiliki tempat bersuci[2], dan menghadap ke arah kiblat[3]. Dalam artikel di salah satu website di internet dikemukakan pengertian masjid sebagai berikut. Masjid atau mesjid adalah rumah tempat ibadah umat Muslim. Masjid artinya tempat sujud, dan mesjid berukuran kecil juga disebut musholla, langgar atau surau. Selain tempat ibadah masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas muslim. Kegiatan - kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al Qur'an sering dilaksanakan di Masjid. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran (Wikipedia, 2013). Jika dikaji dari segi etimologisnya juga dari situs di internet, masjid adalah sebagai berikut Masjid berarti tempat beribadah. Akar kata dari masjid adalah sajada dimana sajada berarti sujud atau tunduk. Kata masjid sendiri berakar dari bahasa Aram. Kata masgid (m-s-g-d) ditemukan dalam sebuah inskripsi dari abad ke 5 Sebelum Masehi. Kata masgid (m-s-g-d) ini berarti "tiang suci" atau "tempat sembahan". Kata masjid dalam bahasa Inggris disebut mosque. Kata mosque ini berasal dari kata mezquita dalam bahasa Spanyol. Dan kata mosque kemudian menjadi populer dan dipakai dalam bahasa Inggris secara luas (Wikipedia, 2013).
Pada awalnya masjid dibangun pertama kali oleh nabi Muhammad SAW di Madinah, yang kemudian sekarang masjid tersebut dikenal dengan masjid Nabawi yang berarti masjid nabi (Wikipedia, 2013). Tetapi kemudian masjid-masjid semakin banyak dibangun ke semua penjuru dunia hingga ke Indonesia, sampai juga ke Jawa Barat. Bentuk masjid bermacam-macam disesuaikan dengan arsitektur yang berlaku di tempat tertentu di mana masjid itu di bangun.
Penulis di sini meneliti tentang makna-makna yang terkandung dalam keindahan seni arsitektur Masjid As Siraj Cipadung, di mana masjid ini memiliki tingkat keunikan tersendiri, dibangun pada tahun 1964 dengan bergaya arsitektur khas jawa tengah tetapi di bangun di wilayah yang sangat berbeda budayanya yaitu di Cipadung, Bandung-Jawa Barat (Agus, 2011).



1.1.Latar Belakang Penelitian
Masjid As Siraj yang juga dikenal sebagai masjid Patal oleh warga sekitar adalah masjid yang semulanya diperuntukkan bagi karyawan perusahaan Patal Cipadung, masjid tersebut didirikan pada tahun 1964 (Agus, 2011), perusahaan Patal Cipadung sendiri mulai dibangun pada tahun 1962 bersamaan dengan perusahaan tekstil lainnya yang berada di bawah naungan pemerintah karena termasuk BUMN, sampai pada tahun 1967 berada di bawah naungan PT. Sandang, dan pada tahun 2000 berada di bawah nauangan PT. Sandang I yang berpusat di Jakarta (Andhika, 2005). Tetapi pada tahun 2005 bahkan Masjid unik ini pun sempat akan dijual karena pailit yang dialami oleh perusahaan tersebut, tetapi dengan berbagai pertimbangan maka masjid ini tetap berdiri sampai sekarang.
Penulis tertarik meneliti Masjid ini karena keunikan arsitekturnya yang memadukan dua budaya, jawa dan sunda, karena arsitektur masjid ini mengadopsi arsitektur masjid demak yang menganut budaya jawa dengan gaya joglo. Tetapi tidak semua aspeknya, hanya pada bagian atapnya saja yang menganut gaya tersebut (Yosep, 2013).
            Dalam penelitian ini, maka penulis akan menggunakan teori semiotik dari Charles Sander Peirce. Teori semiotik Peirce dikenal sebagai teori semiotik komunikasi yang bebas dari strukturalisme. Menurut Peirce terdapat prinsip mendasar dari sifat tanda yakni 1) sifat representatif, dan 2) sifat interpretatif. Sifat representatif  tanda berarti tanda merupakan sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain Sedangkan sifat interpretatif artinya bahwa tanda tersebut memberikan peluang bagi interpretasi tergantung kepada siapa yang memakai dan menerimanya. (Rusmana, Dadan. 2005:52).
            Melalui teori ini, penulis akan mencoba menginterpretasikan pemahaman yang didapat dari hasil penelitian, dan tentu saja dengan disertai penjelasan dari narasumber yang dipercaya.

1.2.Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di mesjid As Siraj, Cipadung, pada hari Kamis, tanggal 10 November 2013. Penelitian dibantu oleh seorang pengurus DKM As Siraj Cipadung, Bapak. H. Ahmad Ridwan, S.Ag., dan seorang jamaah mesjid sebagai narasumber, juga berbagai literature berkaitan dengan tema penelitian dari berbagai sumber.

1.3.Langkah-langkah Penelitian
Penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
1.      Penulis mendatangi mesjid yang menjadi lokasi penelitian.
2.      Penulis mencari anggota DKM mesjid untuk meminta izin melakukan penelitian.
3.      Penulis lalu mulai melihat-lihat seni arsitektur pada bangunan mesjid tersebut dan mencatat hal-hal yang dianggap menarik serta mengambil gambarnya menggunakan kamera.
4.      Penulis kembali mendatangi anggota DKM untuk meminta penjelasan terkait hal-hal yang baru saja didapatkan.
5.      Penulis melakukan wawancara dengan anggota DKM tersebut untuk mengetahui sejarah berdirinya mesjid dan makna dari segi arsitektur yang penulis amati.
6.      Penulis kemudian melakukan wawancara pada seorang jamaah masjid bersangkutan untuk dimintai komentarnya mengenai makna dari arsitektur masjid bersangkutan.
7.      Hasil penelitian dikaji ulang di tempat terpisah sambil menyusun laporan hasil akhirnya.

1.4.Rumusan Masalah
Dari kaca mata penulis, akan ada banyak sekali masalah yang dapat dihasilkan berkaitan dengan penelitian ini, tetapi dengan segala keterbatasan penulis, maka dengan ini penulis batasi rumusan masalah penelitian sebagai berikut.
1.      Bagaimana makna yang terkandung dalam arsitektur Masjid As Siraj Khususnya pada dinding kaca, atap dengan gaya Joglo, dan simbol bulan bintang di puncak atap masjid?
2.      Apakah hubungan arsitektur masjid tersebut dengan pelestarian budaya?


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Arsitektur Masjid As Siraj Cipadung
Masjid As Siraj terletak di pinggir Jalan, tepatnya di Jalan A.H. Nasution nomor 274, Cipadung, Kecamatan Panyileukan, Bandung-Jawa Barat. Masjid As Siraj terlihat berbeda dari masjid-masjid di perkotaan pada umumnya yang memakai tembok dan kubah dari bahan metal baik tembaga atau pun stainless steel. Pada ujung atapnya masjid ini memiliki lambang bulan dan bintang yang memang lazim ada pada masjid pada masanya. Kemudian hal yang paling terlihat berbeda terutama dengan masjid yang berada di daerah sekitarnya adalah bentuk atap yang mengadopsi gaya khas rumah Jawa yaitu Joglo, berikut lebih jelasnya dikutip dari artikel di situs bimbingan.org tentang rumah Joglo, Rumah Joglo adalah rumah adat khas Jawa, atapnya berbentuk trapesium, menjulang ke atas berbentuk limas. Teras depan umumnya lebar dan ruang tengah tanpa sekat. Rumah Joglo lebih dikenal di Jawa Tengah daripada di Jawa Barat dan Jawa Timur (org., 2013). Kemudian hal lainnya yang menarik dari arsitektur mesjid ini adalah tidak adanya kaligrafi di dalamnya, dinding hanya dicat dan ditempeli dengan keramik sebagai seninya, hal lainnya yang menarik adalah dinding hanya ada pada bagian depan saja, yaitu pada bagian yang dihadapi oleh jamaah, yang lainnya, pada bagian samping kiri, kanan, dan belakang dinding rata-rata adalah dari kaca; hal ini juga menjadikan Masjid ini oleh DKM disebut sebagai masjid Kaca (Yosep, 2013).
Arsitektur masjid ini tidak mengalami perubahan yang signifikan, jadi dari awal mula dibangun kurang lebih masih seperti itu saja, hanya ada perbaikan dan pengecatan saja di tempat yang termakan usia, tapi masjid ini juga mengalami renovasi pada tahun 2000 yaitu peluasan masjid untuk memenuhi keperluan jamaah, yaitu pelebaran dan penambahan teras masjid ke samping kiri dan kanan (Yosep, 2013). Dengan renovasi tersebut, luas masjid bertambah menjadi 3200m dari awalnya 1300m (Agus, 2011). Lantai masjid terbuat dari marmer, memberikan suasana yang adem khas masjid pada umumnya, dilengkapi juga dengan berbagai fasilitas lain yaitu, toilet untuk pria dan juga wanita secara terpisah, tempat wudhu pria dan wanita secara terpisah, lahan parkir kendaraan, madrasah untuk mengaji anak-anak, tempat pengobatan terapi tiga dimensi, kantor DKM, tempat penitipan barang, kolam dan taman, dan dinding koran[4]. Di dalam masjid tidak terdapat satu pun tiang, tetapi di luar yaitu di teras masjid terdapat belasan tiang yang berdiri menambah kesan “joglo” masjid tersebut.
2.2. Pembahasan
Sejalan dengan konsep mengenai tanda yang dikemukakan oleh Peirce, In its simplest form, the Peircean sign has been defined as something that relates to something else for someone in some respect or capacity.”(konsep tanda menurut Peirce didefiniskan sebagai sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain). (Merrell:1997). Maka penulis berpendapat bahwa di setiap sudut arsitektur mesjid ini terdapat makna tersendiri yang melambangkan suatu maksud atau tujuan tertentu. Adapun penjelasan dari tiap sudut bangunan masjid dari sudut pandang penulis diuraikan sebagai berikut:
1.      Dinding kaca yang banyak terdapat di Masjid As Siraj ini berhubungan dengan nama masjid ini sendiri, As Siraj adalah bahasa arab yang kemudian bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia yaitu lentera, seperti tertulis di harian republika, menurut Ketua DKM As Siraj, Deni Waluyo, Masjid ini diberi nama oleh tokoh Masyarakat Cipadung, Ma’mun, dengan tujuan tiada lain agar masjid ini dapat menjadi “lentera” penerang bagi khususnya perusahaan Patal Cipadung yang bersangkutan pada waktu itu, dan umumnya bagi warga sekitar serta jamaah Masjid As Siraj sendiri (Agus, 2011). Tak terbayangkan bagaimana arsitektur dari perusahaan patal ini berkontemplasi menyesuaikan nama Masjid dan bangunannya, karena sesuai sekali bentuk lentera itu memiliki banyak kaca di tengahnya[5]. Dan pada dinding kaca ini juga terdapat ciri khas Joglo yaitu terdapatnya tiga buah pintu masuk, yang memiliki makna filosofis sebagai berikut, Pada bagian pintu masuk memiliki tiga buah pintu,yakni pintu utama di tengah dan pintu kedua yang berada di samping kiri dan kanan pintu utama. Ketiga bagian pintu tersebut memiliki makna simbolis bahwa kupu tarung yang berada di tengah untuk keluarga besar, sementara dua pintu di samping kanan dan kiri untuk besan, hal ini melambangkan bahwa tamu itu adalah raja yang harus di hormati dan di tempatkan di tempat yang berbeda dengan keluarga inti ataupun keluarga dari mempelai, demi menghormati kehadiran mereka dan memberi tempat yang berbeda dari keluarga sendiri dan itu adalah cara atau tata krama yang pantas untuk menyambut tamu (Fajri, 2012). Tetapi hal itu berlaku untuk Joglo jika pada bangunan berbentuk rumah dan apabila pada bangunan masjid hal itu tidak berlaku karena di masjid strata sosial walau pun berbeda tetapi dianggap sama, jadi adanya tiga pintu masuk itu adalah hanya sebagai adaptasi budaya saja.
2.      Pemakaian atap dengan gaya khas joglo memiliki beberapa makna, dari pandangan penulis, arsitek yang disebutkan dari Jawa ini mengadopsi keagungan simbol Joglo itu sendiri, dan juga membawa agar jamaah yang kebanyakan dari Jawa itu betah (Yosep, 2013). Filosofi khas joglo ini di antaranya adalah sebagai berikut:
Filosofis dan rumah adat Joglo bisa dilihat dari bangunannya yang berpilar empat, ditopang oleh soko guru. Komposisi ruangan yang ada pada rumah Joglo terdiri dan pendopo (ruang pertemuan), pringgitan (ruang pementasan) dan dalem (ruang keluarga). Di dalam rumahjoglo terdapat tiga senthong (kamar) terletak di sebelah kin, tengah, dan kanan.
Dalam tradisi Jawa yang diterapkan pada desain rumah Joglo adalah setiap ruangan memiliki arti tersendiri. Bagian depan untuk kebutuhan umum, bagian belakang khusus untuk pemilik rumah. Zaman dahulu, dalam satu ruang di rumah Joglo “disediakan” tempat khusus untuk Dewi Sri (dewi kesuburan) yang membawa kemakmuran bagi keberhasilan hasil panen pertanian. Ruangan itu selalu kosong dan disebut krobongan (kamarnya kosong tetapi isinya lengkap selaiknya sebuah kamar tidur).
Arti dan Makna Ruang-ruang dalam Rumah Joglo
a.       Pendopo tidak memiliki dinding dan selalu terbuka. Tanpa kursi dan meja. Bermakna kepribadian Jawa yang selalu ramah dan terbuka kepada siapa saja. Tidak ada kursi dan meja melambangkan keseteraan antara tamu dan pemilik rumah agar terasa dekat. Pendopo terdiri dan soko guru, soko pengerek, dan tumpang sari.
b.       Pringgitan perlambang kemakmuran. ini dimaksudkan agar pemilik rumah selalu bahagia, rukun, subur, dan sentosa. Bagian ini merupakan penghubung antara pendopo dan rumah dalem.
c.        Dalem ruang mi adalah ruang privasi. Tempat Dewi Sri tinggal.
d.       Sentong kamar tidur.
e.        Gandok tengen dan kiwo bangunan yang menempel di dinding bagian kanan dan kiri rumah. (org., 2013).
Namun hal di atas adalah filosofis terhadap adat Joglo pada bangunan yang berupa rumah. Dan apabila diterapkan pada Masjid As Siraj maka terlihat beberapa kesamaan, Masjid As Siraj memiliki selasar depan yang dapat difungsikan juga disebut sebagai pendopo dan sesuai dengan kutipan di atas bermakna terbuka sesuai dengan kepribadian orang Jawa dan tentunya masjid ini juga terbuka untuk siapa saja. Untuk soko-sokonya di Masjid ini digunakan belasan tiang yang dibalut marmer sebagai penghias sesuai dengan ciri khas gaya Joglo. Di Masjid ini juga terdapat ruang di belakang yang difungsikan untuk DKM dan terapi tiga dimensi serta untuk belajar anak-anak sesuai dengan kutipan di atas yaitu bagian khusus untuk pemiliki rumah, tapi sayangnya tidak ada tempat khusus yang selalu kosong di Mesjid ini. Untuk Gandok tengen dan kiwo[6] maka sesuai juga dengan masjid As Siraj yang memiliki bangunan di sebelah kanannya yaitu yang tiga tadi, tempat DKM dan lainnya dan di sebelah kiri adalah jalan untuk menuju ke tempat wudlu dan toilet.
Dan dikutip dari satu artikel di internet bahwa makna filosofis yang paling utama dari atap dengan gaya Joglo ini adalah Atap joglo selalu terletak di tengah-tengah dan selalu lebih tinggi serta diapit oleh atap serambi. Bentuk gabungan antara atap ini ada dua macam, yaitu: Atap Joglo Lambang Sari dan Atap Joglo Lambang Gantung. Atap Joglo Lambang Sari mempunyai ciri dimana gabungan atap Joglo dengan atap Serambi disambung secara menerus, sementara atap Lambang Gantung terdapat lubang angin dan cahaya, dan hal ini melambangkan filosofi kehidupan manusia, bahwa kehidupan semakin sukses (berada diatas) maka cobaan pun akan semakin berat, semakin kuat diterpa angin, dan selalu rawan untuk jatuh apabila tidak hati-hati, dan alangkah baiknya jika hidup kita seperti kontruksi Rumah dan Penataan Ruang pada Rumah joglo ini, yang saling mengikat satu sama lain, mengormati, bantu membatu, dan tidak ada yang dirugikan (Fajri, 2012).
3.      Makna bulan sabit dan bintang di puncak atap, kerap kali terlihat di puncak atap masjid terlihat bentuk bulan bintang, sebenarnya apa makna dibalik bulan bintang tersebut. Ternyata makna bulan bintang tersebut adalah sebagai pengingat akan jayanya umat Islam di zaman Turki Utsmani, karena pada waktu itu Islam sempat menguasai dua pertiga dunia, tiga benua besar dikuasai Islam yaitu Asia, Eropa, dan Afrika. Ini ditandai dengan takluknya konstantinopel oleh Islam saat itu.
Saat itu bulan sabit digunakan untuk melambangkan posisi tiga benua itu. Ujung yang satu menunjukkan benua Asia yang ada di Timur, ujung lainnya mewakili Afrika yang ada di bagian lain dan di tengahnya adalah Benua Eropa. Sedangkan lambang bintang menunjukkan posisi ibu kota yang kemudian diberi nama Istambul yang bermakna: Kota Islam.
Bendera bulan sabit ini adalah bendera resmi umat Islam saat itu, karena seluruh wilayah dunia Islam berada di bahwa satu naungan khilafah Islamiyah. Tidak seperti sekarang ini yang terpecah-pecah menjadi sekian ratus negara yang berdiri sendiri hasil dari jajahan barat.
Wajar kalau lambang itu begitu melekat di hati umat dari ujung barat Maroko sampai ujung Timur Marauke. Inilah lambang yang pernah dimiliki oleh umat Islam secara bersama, bulan dan bintang. Dan lambang ini kemudian seolah menjadi lambang resmi umat Islam dan selalu muncul di kubah-kubah masjid. Dan kalau kita perhatikan, nyaris hampir semua kubah masjid di berbagai belahan dunia punya lambang ini (Sarwat, 2007).
Begitulah makna dari simbol bulan bintang yang banyak berada di puncak-puncak masjid selama ini, hal ini juga termasuk akulturasi budaya Islam yang masuk ke Indonesia, tetapi tidak merusak budaya asli Indonesia.

            Namun dalam teori Peirce pun dikenal sifat interpretatif tanda, “Signs can also become other signs and in the process take on radically distinct meanings, depending upon the set of experiences and the expectations of the signs ’interpreters.” (tanda bisa menjadi tanda lain dan dalam proses pemahamannya tanda memberikan peluang bagi interpretasi tergantung kepada siapa yang memakai dan menerimanya). (Merrell:1997)
            Dalam penelitian ini pun terdapat beberapa penafsiran berbeda yang berasal dari asumsi jamaah mesjid mengenai arsitektur mesjid As Siraj. Salah satunya adalah seperti pernyataan seorang jamaah yang diwawancarai di Masjid As Siraj, dia[7] berkomentar bahwa arsitektur masjid tersebut menggambarkan ciri khas jaman dulu, ketika lebih lanjut ditanyakan tentang hal apa yang paling mencirikan pada jaman dulunya lalu dia menjawab salah satunya adalah genting dan lantai, ketika ditanya mengenai dinding kaca dia menjawab bahwa itu ditujukan agar suasana masjid menjadi lebih nyaman saja (Yosep, 2013). Dan pendapat lain yaitu dari narasumber yang tidak lain DKM As Siraj, Ahmad Ridwan, mengatakan hal yang tidak jauh beda dengan penafsiran penulis[8].
Terdapat sedikit perbedaan antara tafsiran penulis dan beberapa narasumber yang diwawancarai, tetapi hal itu adalah wajar karena sesuai dengan teori Peirce, beda penafsir maka akan beda pula tafsiran yang dihasilkan, karena berbagai faktor.
BAB III
KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan
Masjid As Siraj merupakan masjid yang sudah cukup tua dan memiliki banyak sekali makna yang terkandung di balik keindahan arsitekturnya. Secara keseluruhan mengadopsi gaya arsitektur Joglo khas Jawa yang kental akan filosofis sosial dan transendental. Dari mulai pendopo sampai puncak atap yang berupa bulan bintang memiliki makna tersendiri yang bila dikaji lebih jauh mungkin dapat dijadikan satu bahasan yang lebih menarik lagi dan akan banyak melebar ke disiplin ilmu yang lainnya.
Dari Arsitektur As Siraj ini juga terlihat adanya beberapa perpaduan budaya, antara budaya Sunda, Jawa, dan budaya Islam yang tidak lain dari kejayaan Turki Utsmani. Akulturasi budaya yang ada itu tidak mematikan pihak manapun dan justru melahirkan kesan yang unik yang memikat semakin banyak pengunjung dan tentunya jamaah bagi masjid transit ini.
Semoga tulisan ini dapat menjadi titik mula dimulainya penelitian lebih lanjut terhadap makna yang dikandung masjid As Siraj atau pun masjid-masjid lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Merrell, F. (1997) Peirce, Signs and Meaning, Toronto and London: University of TorontoPress.
Rusmana, Dadan. (2005) Tokoh dan Pemikiran Semiotik. Bandung: Tazkiya Press.
Agus. (2011). Masjid As Siraj Lentera Bagi Masyarakat Sekitar. Kabar Jabar .
Andhika, W. (2005). Pengendalian Kualitas Benang Per Cone di PT Sandang Secang Cipadung. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Fajri, A. J. (2012, June 26). blogspot.com. Retrieved November 11, 2013, from Achmad Junal Fajri: http://achmad-jf.blogspot.com/2012/06/makna-simbolis-pada-tata-ruang-rumah.html
org., B. (2013). Bimbingan org. Retrieved November 11, 2013, from Bimbingan, bimbingan gratis untuk semua: http://www.bimbingan.org/sejarah-rumah-joglo.htm
Sarwat, A. (2007, March 26). eramuslim.com. Retrieved November 9, 2013, from eramuslim: http://www.eramuslim.com/negara/lambang-bulan-sabit-dan-bintang.htm
Wikipedia, T. P. (2013, Oktober 28). Wikipedia.org. Retrieved November 8, 2013, from Wikipedia Ensiklopedia Bebas: http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid
Yosep, M. (Composer). (2013). Filosofi dan Sejarah Arsitektur Masjid As Siraj. [A. Ridwan, Performer, & E. Tazkia, Conductor] Bandung, Jawa Barat, Indonesia.




LAMPIRAN
Untuk video wawancara dapat diakses di https://www.facebook.com/mochamad.yosep.7/videos (proses uploading sampai 13 November 2013)[9]
Foto Masjid As Siraj dari depan (diambil hari Kamis 7 November 2013 oleh penulis)



Berikut adalah artikel dari harian Republika




[1] Mimbar adalah tempat untuk khotib dalam melaksnakan ceramah keagamaan.
[2] Tempat bersuci di sini adalah tempat untuk berwudhu, berupa pancuran dengan berbagai bentuk, digunakan untuk melakukan ritual berwudhu sebelum melaksanakan shalat.
[3] Kiblat adalah bangunan yang menjadi arah beribadat bagi semua umat Islam di dunia, letak ka’bah yaitu berada di Makkah, Arab Saudi.
[4] Dinding koran adalah dinding yang terletak di depan masjid, seperti papan pengumuman yang berisi koran harian yang selalu update setiap hari.
[5] Untuk hal ini penulis memiliki kekurangan referensi dan waktu penelitian, karena untuk memperjelas dari mana dan bagaimana hubungan antara bentuk bangunan yang banyak kaca ini dibentuk dan diselaraskan dengan namanya, yang menjadi masalah adalah apakah ini termasuk filosofi modern atau kah tradisional. Modern di mana terdapat gambaran dulu sebelum ada riilnya, dan tradisional di mana pemahaman dan pemberian makna diberikan seiring dengan berjalannya waktu (riilnya dulu baru pemaknaan).
[6] Tengen adalah bahasa jawa untuk kanan, dan kiwo adalah kiri.
[7] Nama jamaah tidak disebutkan karena dalam wawancara, pewawancara tidak menyertakan nama narasumber.
[8] Narasumber ini hanya memberikan beberapa makna mengenai nama masjid, As Siraj yang berarti lentera, dan konteks arsitektur masjid yang mengadopsi gaya arsitektur Joglo khas Jawa.
[9] Dapat dilihat di situs tersebut dimulai dari tanggal 13 November 2013.

Kamis, 27 Juni 2013

A Marxist Analysis of Iwan Fals’ Song Nak Social Base and Function of Literature

A father’s love, a mother’s love… what if they are angry, angry to the world’s situation, angry to your environment and social condition around you. Will they broke the dishes, fill a bottle full with petroleum and then make it an explosive bomb then throw it to the governmental house, or will they kill themselves after they kill you. They can be doing all of those things above, but they are too kind to do that, they are not such kind of people. Another option they can take is singing some song or make some story, and retelling it to you as their child. This phenomenon captured in one of Iwan Fals’ song lyric, Nak. A song about a father’s feeling about the world and make it a background in his mind to make some wise words for his child. A song from 1984 in an album called Sugali.
“Verse 1

Jauh jalan yang harus kau tempuh
Mungkin samar bahkan mungkin gelap
Tajam kerikil setiap saat menunggu
Engkau lewat dengan kaki yang tak bersepatu

Duduk sini Nak dekat pada bapak
Jangan kau ganggu ibumu
Turunlah lekas dari pangkuannya
Engkau lelaki kelak sendiri

Verse 2

Nak dengarlah bicara bapakmu
Yang kenyang akan hidup terang dan redup
Letakkan dahulu mainan itu
Duduk dekat bapak sabar mendengar

Kau anak harapanku yang lahir di jaman gersang
Segala sesuatu hanya ada karena uang
Ya … ya … ya … ya …
Kau anak dambaanku yang besar di kancah perang
Kau harus kuat yakin pasti menang

Sekolah biasa saja jangan pintar-pintar percuma
Latihlah bibirmu agar pandai berkicau
Sebab mereka sangat perlu kicau yang merdu
Sekolah buatmu hanya perlu untuk titel
Peduli titel didapat atau titel mu’jizat
Ya … ya … ya … ya …

Sekolah buatmu hanya perlu untuk gengsi
Agar mudah bergaul tentu banyak relasi
Jadi penjilat yang paling tepat
Karirmu cepat uang tentu dapat
Jadilah Durno jangan jadi Bimo
Sebab seorang Dorna punya lidah sejuta
O . . . . o . . . . o . . . . . o . . . .

Hidup sudah susah jangan dibikin susah
Cari saja senang walau banyak hutang
Munafik sedikit jangan terlalu jujur
Sebab orang jujur hanya ada di komik
Pilihlah jalan yang mulus tak banyak batu
Sebab batu-batu bikin jalanmu terhambat
Ya … ya … ya … ya …
Pilihlah jalan yang bagus tak ada paku
Sebab paku itu sakit apalagi yang berkarat

Jadilah kancil jangan buaya
Sebab seekor kancil sadar akan bahaya
Jadilah bandit berkedok jagoan
Agar semua sangka engkau seorang pahlawan
Jadilah bunglon jangan sapi
Sebab seekor bunglon pandai baca situasi
Jadilah karet jangan besi
Sebab yang namanya karet tahan kondisi

Anakku aku nyanyikan lagu
Waktu ayah tak tahan lagi menahan murka.”[1]

            According to Ricoeur (1981) in a book by Faruk (2010), literature is something that can’t be separated by its context of social condition, but a literary work is something independent and can’t be owned by a person, it can be refers to anyone, anytime, and anywhere[2]. If so, those lyric above must have a social condition background. At the time of the album of the song launched is 1984 and at the time Indonesia is in its new order era under the Soeharto regime. And if we once again look at Marx two greatest clue about his philosophy of Marxism that “it is not the consciousness of men that determines their being, but, on the contrary, their social being that determines their consciousness. And, the philosophers have only interpreted the world in various ways; and the point is to change It.[3]” so the lyric above is an ideology or a superstructure that rest upon the base structure that is no other than the reality of social condition when the lyric written. In despite of Marx, himself said that every different thought has their own social, politic, and economic group interest that dominated at the time. Generally, they, the dominant group, make the unfair economic problem as something that fair and right; they also make a rule about dominant groups as natural and legal. Thus, the thought is to make sure that the dominant group or class keep on power[4]. So the base structure are already monopolized and dominated by the dominant group, it is an unfair condition for the oppressed group; it is a similarity with the idea of bourgeois and proletarian group, so, according to Ryan (2007), literature is an important way to circulate thought in culture. Religion and institution of education in past time, and also film, television, radio, and another media nowadays has an important function[5]. Thus, another way to research literature is by analyzing its political function in shoring up the power of the dominant groups.
            In this essay, I want to summarize up the theory from Trotsky about the social base and function of literature, actually I found D. Jupriono (2012) has summarized it, here his theory say: 1) every works should be utter the voice of pain and hope of very weak or oppressed group in society. 2) In expressing the feeling, the work should be using a direct and most spontaneous word. 3) Extracted by economic factor, proletarian should be conveying their feeling by using their new point of view and poet should give them facility to do it[6]. So, from this theory I will analyze the lyric above if whether the social base and function of literature is in the lyric or not. Here we go.
            First, I will analyze from the number one, is the lyric conveying word from the very weak or oppressed group in society. To answer the question, we have to look at the lyric once more time and decide whether it’s a pro to the dominant or the oppressed group in society.
Anakku aku nyanyikan lagu
Waktu ayah tak tahan lagi menahan murka.”[7]
            Those two lines of lyric tell that this lyric is about a father talk with his son that he sang a song when he can’t bear to hold angry anymore. The father angry because he can’t bear with the situation of war, full of conflict, and it’s so hard to live the life as shown by the lyric below.
Kau anak harapanku yang lahir di jaman gersang
Segala sesuatu hanya ada karena uang
Ya … ya … ya … ya …
Kau anak dambaanku yang besar di kancah perang
Kau harus kuat yakin pasti menang”[8]
            This lyric is a voice of fathers in the era of this lyric written, this lyric is a voice of the oppressed group in society who want their child to be a successful man and don’t suffering like their father, so this lyric according to my appraisal is fulfilled the first requirement of social base and function as said by Trotsky every works should be utter the voice of pain and hope of very weak or oppressed group in society[9].
            Now I will analyzing the language used in the lyric, whether it’s using the most direct and spontaneous language or vice versa. The direct language is a language that should be easily understand by a mere people, and the indirect language is the vice versa of that. To know about whether using the direct or indirect language, let’s look at the lyric again, especially the second verse; and below I took a stanza from the second verse as an example.
Sekolah biasa saja jangan pintar-pintar percuma
Latihlah bibirmu agar pandai berkicau
Sebab mereka sangat perlu kicau yang merdu
Sekolah buatmu hanya perlu untuk titel
Peduli titel didapat atau titel mu’jizat
Ya … ya … ya … ya …[10]
            In that stanza, the translation in English is “school commonly and don’t too smart it’s will give you nothing, train your mouth to know chirruping, because they so need a beautiful twit, school for you just to get the title, don’t mind if it a winning or a given title… ya…ya…ya…ya…” I can take a conclusion that in this lyric to express his feeling, the father used a direct language, a language to persuade by the father to his child to train his speaking ability and make it the first goal before school because it’s the required thing to live the life at the time, although in the lyric used the word chirruping instead of speaking but it is clear enough for us, the reader, to know that the meaning sense is to speak. So the lyric once again fulfill the requirement, the second requirement of Trotsky’s theory about social function of literature “in expressing the feeling, the work should be using a direct and most spontaneous word[11]”.
            Now the final assessment, it is about the base structure if using Marx style, but here we using Trostky’s style and he said it by economic factor as the base of literature written. And also, in this final part is about the point of view of proletarian, and the function of the poet on helping the proletarian to convey their messages. I have taken a stanza from the lyric for me to analyze as shown below.
Jadilah kancil jangan buaya
Sebab seekor kancil sadar akan bahaya
Jadilah bandit berkedok jagoan
Agar semua sangka engkau seorang pahlawan
Jadilah bunglon jangan sapi
Sebab seekor bunglon pandai baca situasi
Jadilah karet jangan besi
Sebab yang namanya karet tahan kondisi[12]
            At the stanza above, the poet successfully conveyed the message from the proletarian about their new point of view to the world, why I know that this is a new point of view from the proletarian, first the lyric above leave the former meaning of some context meaning of some term like kancil or mouse deer, bandit or bandit, bunglon or chameleon, sapi or cow, and about karet (gum) and besi (iron). As the first line in that stanza tell that the child should be like the mouse deer not because the mouse deer clever as in Indonesian fable story but because mouse deer more understand about any danger around, and also not to be strong only as the crocodile. The second thing is to be a chameleon not to be a cow, a cow according to me an Indonesian people is so useful than a chameleon that can be found at so many place at my place freely, but in the lyric the child should be like the chameleon because it can read the situation around and that is more useful than to be a cow that can’t do anything. And to be gum than to be a piece of iron because the gum is more durable to any condition. Those show the fact that the lyric is the poet role to convey the new point of view of proletarian group. And the final thing, the economic factor as the background of the lyric written is in 1984 there are so much new rich people in Indonesia, and then from the album title also, Sugali[13], is the dominant group that using any method to keep their existence in keeping their power in society.
            As a conclusion of this essay, I will say that this lyric entitled Nak by Iwan Fals is successfully created and fulfill every requirement of the three requirement as in Trotsky’s theory. So this lyric is an ideal lyric for its social base and function.




[1] Fals, Iwan. 1984. Sugali. Indonesia : Musica Studios.
[2] Faruk. 2010. Pengantar Sosiologi Sastra, dari Strukturalisme Genetik sampai Post-modernisme. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
[3] Selden, Raman. ____. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory 5th ed. New York : Pearson Longman.
[4] Ryan, Michael. 2011. Teori Sastra, Sebuah Pengantar Praktis. Yogyakarta : Jalasutra.
[5] Ryan, Michael. 2011. Teori Sastra, Sebuah Pengantar Praktis. Yogyakarta : Jalasutra.
[6] Trotsky, L. 2003. Akar dan Fungsi Sosial Dunia Sastra. Terjemahan Dewey Setiawan. Jogjakarta : Wellred.
[7] Fals, Iwan. 1984. Sugali. Indonesia : Musica Studios.
[8] Fals, Iwan. 1984. Sugali. Indonesia : Musica Studios.
[9] Trotsky, L. 2003. Akar dan Fungsi Sosial Dunia Sastra. Terjemahan Dewey Setiawan. Jogjakarta : Wellred.
[10] Fals, Iwan. 1984. Sugali. Indonesia : Musica Studios.
[11] Trotsky, L. 2003. Akar dan Fungsi Sosial Dunia Sastra. Terjemahan Dewey Setiawan. Jogjakarta : Wellred.
[12] Fals, Iwan. 1984. Sugali. Indonesia : Musica Studios.
[13] Sugali is a fictive character created by the lyric writer, he is a bandit that wanted by the police in the era of Petrus in Indonesia, a mysterious tragedy in 1980’s that took so many victim.