Jumat, 05 April 2013

my autobiography essay


All the praise should be addressed to Allah and his prophet Muhammad who have been taught Islam to us. My name is Mochamad Yosep, I was born in Bandung at 17th November 1991. My parents is Tini Wartini and Rosmana, they are my lovely parents that will always give me spirit and lessons that I will not forget till my very end of my life. They taught me patience and honesty, and I will try to keep those in me forever, I wish god willing me to be a good man.
My life is so short I think, because I have not so much thing so wow in my life. Every human being is intended to be a religious person and is being supposed to be pray to Allah as that said in Koran. I’ve been taught that thing by my parents and also all my teachers, but maybe the fact is I still can’t be as their expected. Continuing to the point of the wow thing in my life, maybe it is my school life so I’ll tell about it.
I enrolled to an elementary school when I was five and a half years, at the first time that elementary school didn’t want to accept me because my age is a little too small to be an es (elementary school) student but until several discussions with my parents so they accept me. The school name is SDN (state elementary school) Cijembar, My first school time was not much interesting moments happened but several mistake maybe happened at the time, I was an only one child in my family so I have a bad habit, I was a little spoiled, a little too much than the other children in my school. but that only happen until me at third grade. In es I have a good result in all grades. Something that I can learn from this time is no pain no gain, you must give your best effort to be something.
Examination of es time was come, I was so nervous at the time but my parents like usually gave me a lot of spirit so I could stand up more and I could give my best for the examination. The all six years of study was determined by the result of this national examination but the god and my parents was still with me so I could pass the exam with a good result so I could graduate and continue my study to the next level.
When I have graduated from es, I enrolled to SMPN (state junior high school) 1 Pangalengan. The school has its own rule; the students who want to enroll first had to perform some exam. Exam again I think, but it’s ok, once again, no pain no gain. I was together with some friends of mine come to the school to enroll. We came together and also perform the entrance examination together but unluckily we can’t accepted to the school together, just me and a few of my friends who could join the school most of them is regretted and then they were enrolled some where else. I think that it’s maybe not their failure but it’s a successful thing that was delayed.
Once again, when I was a junior high school student I could pass every grade with a good result. And the good point this time I was joined an extracurricular, I joined UKS (school health effort), I joined it until my last day of school. And I can say that I love it. A lesson from junior high school is, don’t ever to try any bad habit because it can be your daily habit if you love it. In last days of junior high school once again I ought to do a national exam and it was so urgent because it decided my graduating, but luckily I could pass it.
Now is time for high school, because I have graduated from junior high school I continued my study to senior high school. My senior high school is near to my house, and different from junior high school I didn’t need to do an entrance exam because the enrolled was just requiring the score of national exam from junior high school, we call it NEM. Actually I want to enroll to SMK (vocational high school) but because some reasons I cancel it and just continuing to SMA, but it was ok for me because more I live it more I enjoy it.
The things that I can’t forget from senior high school are scout and girl. When I was at second grade at senior high school I joined scout and then I like it, I love it more than UKS when I was at junior high school but actually not only I joined school but also I joined several another extracurricular like IRMAS (mosque teenagersJ) and OSIS (default school student organization). In IRMAS I have found a smart and cheerful and actually I love her. So because of that I can’t forget senior high school. Thing that I could learn from this time is your time will never come back to you, use it as best as you can dude.
In the end of the school was final exam, it was a crazies one because after this my teachers and also my parents said is a confusing time one. In the exam I pass it, and again with a good result. But the wise man (teachers and parents) is right after that time was confusing one I didn’t know where I want to continuing my life not my study alone, but after that I with another friends of mine try to follow SNMPTN (national entrance examination to enroll to a state university with a lower cost one) but unluckily I was fail. I didn’t continuing my study for a year and then the next year I tried to enroll to UIN (Islamic state university) in Bandung and luckily I was accepted at English Department, I chose it for second choice and I got it. I was trying hard to survive there until now I am doing this writing.

Cibolang, aset Pangalengan yang terabaikan


Cibolang adalah nama suatu kampung di Pangalengan, Bandung – Jawa Barat. Di Cibolang terdapat satu tempat wisata berupa pemandian dan kolam renang air panas. Seperti tempat wisata alam pada umumnya Pemandian Cibolang yang juga disebut Cibolang Hot Spring ini dikelola oleh Perhutani, saya kira dengan dikelola Perhutani Cibolang akan semakin baik tapi nyatanya tidak, walaupun ada penambahan fasilitas out bond dan seluncuran, tetapi itu pun hanya ditambah saja; setelah ada tidak terpelihara dengan baik apalagi kebersihan kolam.
Selain itu di tempat wisata ini masih banyak hal yang bisa diperbaiki, tetapi pihak pengelola seperti acuh tak acuh dengan kondisi tempat wisata ini. Padahal pengunjung Cibolang Hot Spring semakin hari semakin banyak, apalagi dengan digembor-gemborkannya Pangalengan sebagai tempat wisata di acara HUT Kabupaten Bandung kemarin yang diadakan di Cileunca, Pangalengan.
Saya sebagai orang Pangalengan dan juga sebagai pengunjung setia Cibolang dari dulu menginginkan  adanya sedikit perhatian pengelola dalam segi kebersihan dan kenyamanan Cibolang. Saya membayar dengan harga yang sepertinya tidak pas dengan pelayanan yang saya dapatkan, selain itu mungkin dengan terpeliharanya Cibolang maka diharapkan wisatawan dari luar daerah terpuaskan dan ingin kembali lagi ke Cibolang. Mungkin hal yang kecil tetapi sepertinya sangat bermakna bagi Cibolang dan pengunjungnya.

upaya optimalisasi enkulturasi budaya sejak dini


Masa kanak-kanak adalah masa emas perkembangan otak, hal ini merupakan suatu keuntungan bagi kita sebagai pihak yang berkewajiban mengurus anak-anak itu untuk melakukan suatu penerapan budaya yang baik bagi anak tersebut. Penerapan norma-norma, nilai, dan juga berbagai aspek kehidupan yang sesuai dengan adat, agama dan juga negara. Penerapan budaya yang kurang optimal di masa-masa keemasan perkembangan otak anak ini sungguh disayangkan karena itu berarti kita telah membuang suatu kesempatan emas untuk memberikan warisan terindah bagi anak-anak itu.
Kenapa enkulturasi?
Menurut John Bedley, seorang anak tidaklah langsung terlahir dengan menguasai suatu kebudayaan, tetapi sebenarnya mereka itu harus mempelajari kebudayaan. Sebagai contoh seorang anak atau bayi yang baru lahir harus belajar dulu untuk berbicara dan menguasai sebuah bahasa juga dia harus mematuhi peraturan yang berlaku di masyarakat di mana dia tinggal. Di berbagai tempat, semua orang haruslah belajar untuk bisa hidup mandiri, mencari makan dan menyiapkan makan sendiri, membuat tempat perlindungan untuk dirinya sendiri. Di tempat lain, orang-orang harus belajar untuk mencari nafkah dan menghidupi dirinya sendiri. Di semua tempat, anak-anak belajar tentang kebudayaan dari


orang dewasa, Antropolog menyebut hal ini sebagai enkulturasi atau perpindahan budaya atau transfer budaya.[1]
Upaya enkulturasi merupakan suatu proses yang panjang. Untuk hanya belajar bahasa saja yang merupakan bagian terpenting dari enkulturasi sudah membutuhkan waktu bertahun-tahun. Suatu keluarga biasanya ada yang melindungi dan juga melakukan enkulturasi terhadap anaknya sampai usia anak itu kurang lebih lima belas tahun, walaupun ada juga keluarga yang melakukan hal serupa dalam waktu yang berbeda, misalnya saja di Indonesia kebanyakan keluarga biasanya mempunyai tanggung jawab untuk melakukan hal yang serupa sampai anak tersebut lulus dari sekolah lanjutan tingkat atas atau sekolah yang setara. Dan setelah itu anak-anak itu telah menginjak masa balignya, mereka sekarang telah memiliki suatu kebebasan untuk mengatur hidupnya sendiri. Tetapi orang-orang juga ada yang masih terus belajar selama hidupnya sehingga orang-orang akan menghormati mereka karena kesungguhannya dalam belajar. Tetapi tidak semuanya dapat berkembang sesuai dengan harapan orang pada umumnya, akan ada anak yang akibat dari kesempatan emas yang dia miliki itu tidak dikembangkan secara optimal dan akhirnya menjadikan perkembangan anak itu menjadi tidak optimal pula.
Permasalahan
            Permasalahan yang kemudian muncul saat ini sebenarnya bukanlah tentang orang tua yang tidak bisa memanfaatkan enkulturasi dengan baik, karena sebenarnya seperti yang dikatakan oleh John Bodley dalam artikelnya bahwa di semua tempat, anak-anak belajar tentang kebudayaan dari orang dewasa.[2] Maksudnya adalah anak-anak akan secara otomatis meniru budaya orang-orang dewasa yang berada di sekitarnya, hal ini terbukti dengan adanya anak kecil usia balita di Indonesia yang merupakan balita perokok termuda di dunia. Ini akibat dari kelakuan orang-orang dewasa di sekitar balita tersebut yang memiliki kebiasaan merokok, di samping itu juga kurangnya kesadaran dari pihak orang-orang dewasa tersebut bahwa perilaku yang mereka perbuat di hadapan anak-anak akan menjadi tuntunan bagi anak tersebut.
            Ada juga permasalahan lain yang mungkin muncul, permasalahan ini adalah ketika anak kecil yang seharusnya memiliki budaya A karena dia tinggal di tempat A tetapi karena orang tuanya tidak menginginkan anak itu memiliki budaya A maka anak kecil itu di enkulturasi dengan budaya B, hal ini akan menjadi masalah ketika anak itu dewasa atau ketika dia akan melaju ke tahap asimilasi dan dia akan kebingungan dengan dirinya sendiri karena budayanya berbeda dengan budaya orang di sekitarnya walaupun hal ini masih bisa ditanggulangi oleh anak itu sendiri tetapi masalah ini bisa menimbulkan hilangnya suatu kebudayaan yang ada, misalkan karena anak itu belajar budaya B maka budaya A ini menjadi terancam keberadaannya.
            Permasalahan ketiga yaitu ketika anak yang tidak melalui proses enkulturasi yang maksimal kemudian dia belum siap untuk berinteraksi dengan yang lainnya tetapi karena waktu anak itu sudah tiba maka akan terjadi culture shock karena anak itu tidak mengerti atau tidak mengetahui ada kebudayaan yang aneh di luar sana yang dimiliki misalnya oleh teman-temannya, hal ini dapat berpengaruh pada mental anak tersebut, bisa jadi anak itu minder tetapi bisa juga anak itu menyesuaikan diri apabila tingkat culture shock-nya masih bisa dia tanggulangi sendiri.
            Secara garis besarnya permasalahan yang dapat ditimbulkan dari kurang optimalnya enkulturasi yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak akan menimbulkan dampak yang negatif terhadap anak baik itu mental maupun cognitif-nya hal itu juga akan memberikan dampak negatif pada kelanjutan budaya yang seharusnya dapat terus dikembangkan oleh anak itu.
Strategi
            Satu strategi yang paling awal yang paling bisa dilakukan adalah dengan cara mempelajari lima dimensi budaya seperti yang ditulis oleh Gert Jan Hofstede dkk., yaitu identitas (identity), hierarki (hierarchy), gender, kepercayaan (truth), kebaikan (virtue) dan juga sikap sadar (awareness), pengetahuan tentang budaya (knowledge) dan juga kemampuan untuk berbudaya (skill).[3] Karena setelah dikaji lebih dalam lagi, hal itu akan menjadi penting karena merupakan pokok dari cross culture understanding. Lima identitas itu merupakan dimensi-dimensi budaya yang bisa membedakan satu budaya dengan budaya yang lainnya, dengan mengetahui dimensi tersebut maka akan timbullah perasaan atau sikap kesadaran (awareness) dari yang mempelajarinya, dan dengan telah menguasai ke lima dimensi pokok budaya tersebut maka berarti telah memiliki pengetahuan (knowledge) tinggal belajar bagaimana untuk menyikapinya dan mempraktekkan kesemuanya itu (skill).
            Selain menguasai tentang teori cross culture understanding seperti di atas maka orang tua juga harus tahu tentang tahapan-tahapan perkembangan anak. Seperti yang ditulis Ross A. Thompson bahwa walaupun manusia itu berkembang seumur hidupnya tetapi masa anak baru lahir sampai anak-anak remaja adalah masa perkembangan yang paling spektakuler,[4] karena pada masa ini perkembangan terjadi pada fisik, intelektual, sosial dan emosional. Selama periode perkembangan ini seorang bayi yang masih sangat rentan ini berkembang menjadi seorang pribadi yang memiliki kemampuan khusus, kepintaran intelektual dan sosial yang khusus pula.[5] Karena itu peranan orang tua di sini sebagai pendukung kehidupan utama dari anak itu, dan dari orang tua jugalah anak itu akan pertama kali belajar tentang budaya dan segala aspek kehidupan lainnya. Dan dengan mengetahui perkembangan anak maka orang tua dapat merancang suatu program untuk mendidik dan meenkulturasi anaknya sebaik mungkin sesuai dengan perkembangan anak tersebut.
            Seperti yang telah dikaji dalam alinea permasalahan di atas maka kita bisa melihat bahwa hal yang bisa menjadikan enkulturasi anak bermasalah adalah adanya pihak masyarakat atau orang dewasa di sekitar anak itu yang tidak mempunyai kesadaran dalam dirinya, mereka tidak sadar berperilaku seenaknya tanpa memperhatikan bahwa perilaku mereka itu sebenarnya merupakan sumber bahan kajian anak-anak yang bisa anak-anak itu tiru dan serap sehingga menjadi bagian atau menjadi budaya dari anak tersebut. Soerjanto Poepowardojo menyebutkan untuk menimbulkan kesadaran manusia itu maka perlu dikembangkan empirisme sebagai orientasi yang terarah pada gejala-gejala objektif dan merumuskannya secara kuantitatif. Di samping itu, empirisme harus disertai rasionalisme, di mana akal budi mampu mengambil jarak terhadap objeknya dan melalui abstraksi mampu merumuskan hasil pengetahuannya dalam prinsip-prinsip yang universal. Dengan struktur pemikiran yang objektif ini, manusia mampu memahami hukum-hukum alam dan merumuskannya dengan teliti.[6] Dan walaupun begitu pada zaman yang telah modern sekarang ini masyarakat lebih percaya terhadap ilmu sains, oleh karena itu kita juga bisa melibatkan psikiater anak untuk diajak bicara sebagai sumber sehingga bila ada masyarakat di sekitar yang masih belum sadar juga bisa menjadi sadar dengan adanya bantuan dari ahlinya.
            Satu hal lagi yang perlu disadari oleh para orang tua, hal itu adalah konsep pembangunan model modernisasi yang sekarang sedang gencar di mana-mana, memang hal ini dapat memberikan keuntungan berganda, menetes ke lapisan bawah melalui peningkatan pendapatan Negara. Dan dengan logika seperti itu kemiskinan diyakini akan berangsur-angsur dapat dikurangi, namun sebenarnya dibalik itu ada suatu hal yang terjadi bagi dunia negara ketiga, geliat modernisasi justru menjerat mereka dalam bentuk kesulitan yang lain. Modernisasi ternyata telah melahirkan fenomena ketergantungan dunia ketiga (miskin) kepada negara maju.[7] Di sisi lain, ketimpangan hasil pembangunan di berbagai daerah yang saling berjauhan terjadi kesenjangan yang tidak dapat dihindarkan, hal ini penting bagi  orang tua untuk mengurangi dampak memburuknya ekonomi terhadap perkembangan buah hati mereka di masa yang akan datang, oleh karena itu walau orang tua mengurus anaknya tapi jangan dilupakan juga tentang biaya hidup dan juga biaya untuk masa depan anak tersebut ke depannya.
Kesimpulan
            Enkulturasi adalah proses pengenalan budaya kepada anak yang dilakukan secara bertahap dan dalam waktu yang cukup lama, proses enkulturasi ini mencakup segala aspek budaya seperti bahasa, adat, kebiasaan dan juga pengetahuan. Masa kanak-kanak merupakan masa-masa emas perkembangan anak dalam berbagai bidang, sosial, fisik, psikologi, dan juga kognitifnya; sungguh sayang apabila masa-masa emas anak ini tidak bisa kita optimalkan maka yang terjadi adalah ke sia-siaan. Oleh karena itu seperti yang telah dikutip dari Exploring Culture maka penting bagi orang tua dan juga orang di sekitar anak dan juga masyarakat secara keseluruhan untuk memberikan suatu kesempatan untuk memperbaiki masa depan dunia dengan cara sadar diri dan memberikan segala daya yang bisa diperbuat untuk sang buah hati tercinta. Jangan sampai budaya kita hilang atau juga jangan sampai budaya kita malah menjadikan anak kita itu menderita.



[1] Bodley, John H. "Culture." Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.
[2] Bodley, John H. "Culture." Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.
[3] Hofstede, Gert Jan. Exploring Culture: Exercises, Stories and Synthetic Cultures/Gert Jan Hofstede, Paul B. Pedersen, Geert H. Hofstede. Intercultural Press. New York. 2002.
[4]Microsoft Encarta.2008
[5]Microsoft Encarta.2008
[6] Poespowardojo, Soerjanto. Strategi Kebudayaan: Suatu Pendekatan Filosofis. Gramedia. Jakarta. 1993.
[7] Fauzia, Amelia. Realita dan Cita Kesetaraan Gender di UIN Jakarta/Amelia Fauzia, Lisa Noor Humaidah, Noryamin Aini, Yuniyanti Chuzaifah. McGill-IAIN-Indonesia Social Equity Project. Jakarta. 2004.

my minority friend


I am at senior high school at the time. As a senior high school student, it is very hard to force the social intercourse stream. My life as a student is not only defending on myself and my family but also my friend.
When I was a senior high school student, I have my group of friend. We ourselves call the group minority. Why minority? Because we are the oppressed, we are the minority, not like the other; we are different on social state, and we are different on the way of life. We think ourselves different from the majority, so we call ourselves the minority.
As well as the minority we are often oppressed, but we never being ourselves to be too oppressed; if we feel the way of treating is amoral or too pleonasm. We will fight back, although we are minority, we want to be like the majority; we still have the right like the other, and we have authority also. If some people break our authority we have to take some act to keep our authority.
We have sharing our life together, keep each other, and feel the happy, sad together. 

My daily life


First, I want you to acquaint me. My name is Joseph, I am a student. I am nineteen years old now. I was born in a small town in Bandung. I lived there till the age of eighteen. My parent has their job in the town that I was born, so we can’t move our home. I attend school from the elementary school until high school there. Then I want to continue study to university. But closest university is at the City in Bandung. I could not coming and go there each day. Hence, I moved near the university, I live at a boarding house. I live there with my friends, they also same as me move from their home town to study at university.
Let’s talk about my daily life. As a student, daily I go to the university studying. Usually I wake up in the morning at 04.00. I wake up early because I have to do my duty as a Muslim praying. My mother always sends me a short message remembering me prayer. This is my mother frequency ask to me, “Joseph has you pray yet? Has you eat? What are you doing now? It’s the money enough? Call me if you run out of money!” how care my mother about me, isn’t it? I love my mother. Seldom have I prayed in the mosque, usually I pray in my boarding house. Then, I read Qur’an the holy book of Muslim people. At least, I read it ten to twenty verses a day. Before I do not do it, but recently I usually read it after doing prayers. And it turns out to be my habitual now. I spend ten to fifteen minutes for reading twenty verses of Qur’an. After that I take a bath. Clean my room, and then have a breakfast. I go to university from 07.00 to midday; it is different each day depending on the schedule. In the midday, I have to pray again and after that I usually have my lunch at KOPMA.
KOPMA is cooperation of the student, there was has several dishes that I like very much. One of them is steam bread. I adore steam bread. I eat it every day at noon for lunch. After having lunch, I am going back to my boarding house, but occasionally I go to the library if I have an assignment to do, or if I want to read I usually go to the library after noon. Usually I went to “warnet” to spend my time until middle of afternoon. In the middle of afternoon I have to pray again, as Muslim people we have to pray five times a day, two later is immediately after sunset and before midnight. Frequency I spent my time there until sunset.  In the night I use my time to do some physical exercise, watching movie, listening to music, doing my homework and assignment. I usually sleep late at night. I was a lazy boy before, I make myself lazy. But now I want to change. I should be diligent.  I found myself capable to be a diligent boy. Finally, I think that’s enough, that’s all my daily life.

My life Meaningless Without You


No smile without friend
No worry without foe
No day without sun
No night without moon

My life meaningless without you

Your smile
Your voices
Your attitude

I wish to beside you forever
I don’t want to lose you
I hope you to be mine

And star life happy endlessly 

The Benefit of Music


What is music? Music can be happy, sad, romantic, sleepy, spine-tingling, healing—all kinds of things. But what is it? Some people define it as an artful arrangement of sounds across time. Our ears interpret these sounds as loud or soft, high or low, rapid and short, or slow and smooth. The sounds need to continue for a time in some sort of pattern to become music. Microsoft ® Encarta ® 2009. © 1993-2008 Microsoft Corporation. All rights reserved.
Music is a part of culture; it is different music in a country to another. The music can be referable to a culture. In our Activities, music is always being a part of our life. It accompany us from we breakfast until we prepare to go sleep.
That is so much-the benefit of music which we can be obtained from it. These are some of them:
Music entertain us
Some time we have our mood become badly, and in that kind of time we need something that can change our mood become well. So music is one of the best ways to do it. Music can entertain us. By listening to music we can entertain and refreshing our mind.
We dance to music
If three is a music played our body will sway together the music play. In Indonesia we distinguish Dang Dut one of the kind of music, which has euphony and make the audience sway.
Music can be used for relaxing
That is some kind of music that has relaxing melody, so the listener can feels relax to hear the music.


Self expression
Beside is good to hear we also can play the music to express yourself. It is some Research authenticated that in different mood people have to hear different kind of music.
The music played in rituality
Some ritual is performed together with the music.
The music play at wedding ceremony
Casually music is played at wedding ceremony to make warm the ceremony or just for counterpoint. In Indonesia wedding ceremony that is some of the motion accompanied with music, for example when siraman, and saweran.
Music as occupation
Music as occupation mean that we can be a musician, musician is someone who plays music as their job.
We have favorite band, composer, or group. We hear the music as the background film. Music acts as our Anthem. It is so many benefits that we can obtain from music, as it should be we can’t duck out from music. It is because music is part of our life. 

Contoh-contoh Paragraf


1.       Paragraf deduksi
Ketua RW 19 Sukamenak Kidul sungguh amat menarik perhatian warganya. Pakaiannya yang rapi sungguh sangat menarik tidak hanya rapi, tetapi enak dipandang mata membuat karismanya semakin terlihat. Tata bahasanya sangat enak didengar. Bahasa tubuhnya sungguh menggambarkan sosok seorang pemimpin. Program-programnya dalam pemerintahan sangat bagus, sehingga RW 19 menjadi RW teladan di desa pengalengan, kecamatan pengalengan, kabupaten bandung.

2.       Paragraf induksi
Sapi menghasilkan susu yang terkandung di dalamnya kalsium, lemak, dan juga beberapa zat yang berguna bagi tubuh kita. Dari susu yang dihasilkan oleh sapi itu juga kita dapat membuat yoghurt (susu pasteurisasi), keju, kerupuk, noga susu, dan banyak lagi makanan lain yang dapat dihasilkan dari olahan susu itu. Selain diambil susunya sapi juga dapat disembelih untuk diambil dan dimakan dagingnya. Sungguh sapi merupakan binatang yang menghasilkan.

3.       Paragraf campuran
Pengalengan mempunyai lingkungan yang bersih, sehat, dan udaranya segar. pengalengan memiliki sejuta potensi di bidang agrowisata. Dalam segi lingkungannya pengalengan masih natural, masih asli, belum terlalu banyak lingkungannya yang sudah dijama manusia. Tinggal mendapatkan sedikit pengaturan lagi untuk dapat dijadikan objek wisata. Mungkin karena itu Pangalengan menjadi desa teladan se-provinsi jawa barat. Di samping itu, pengalengan juga memiliki warga yang ramah-tamah, dan juga tentunya sangat bisa dijadikan aset untuk menjadi wilayah tempat wisata, atau untuk investasi. Pengalengan juga terkenal dengan daerah penghasil susu. Infrastrukturnya lengkap, walaupun mungkin belum ada mall di pangalengan.


4.       Paragraf perbandingan
sifat para koruptor itu sama halnya dengan tikus. Tikus biasa menggerogoti semua barang-barang yang bukan miliknya. Begitu juga para koruptor menggerogoti harta-harta rakyat miskin, harta rakyat Indonesia yang bukan miliknya. Tikus perlahan tapi pasti menghancurkan sebuah rumah yang terbuat dari kayu yang kokoh dengan menggerogoti rumah itu sedikit demi sedikit. Begitu juga para koruptor dapat menghancurkan sebuah negara yang sangat kaya sekalipun dengan perbuatan keji mereka menggerogoti aset negara.


5.       Paragraf pertanyaan
Apakah kita peduli pada lingkungan? Mungkin apabila kita lihat kondisi lingkungan kita saat ini yang tentunya tidak begitu bagus maka langsung dapat disimpulkan bahwa kita tidak terlalu peduli pada lingkungan kita. Bisa kita lihat tumpukan sampah di TPS yang semakin hari semakin banyak, apalagi di TPA tumpukan sampah itu telah menjadi gunung, yang setiap saat mungkin dapat meletus dan mengancam warga di sekitarnya.

6.       Paragraf sebab akibat
Icam sangat rajin membaca buku, dia selalu membaca buku di waktu luangnya. Buku apapun dia baca, dari mulai komik, cerpen, novel, cerita rakyat, puisi, buku pelajaran, dan juga Al’qur’an. Semuanya Icam baca, katanya itu untuk bekalnya di hari tua kelak. Tentulah karena rajin membaca sekarang Icam menjadi siswa yang pintar dan memiliki wawasan yang luas.

7.       Paragraf contoh
Memiliki mobil artinya kita dipaksa untuk dapat merawat mobil, hal itu sangat penting karena apabila tidak dilakukan maka mobil yang kita miliki mungkin tidak dapat berjalan mulus dan mungkin dapat membahayakan bagi pemiliknya. Contohnya ban, pemilik harus senantiasa mengecek ban mobil ketika dia mau mengendarai mobilnya hal itu sangat penting karena ban mobil yang kurang angin dapat membahayakan. Kemudian contoh yang lainnya adalah air di radiator. Harus selalu diperiksa sebelum pemilik mengendarai mobilnya karena apabila air radiator habis di tengah jalan maka mobil bisa mogok.

8.       Paragraf perulangan
Hutan sangat berkaitan dengan kehidupan kita sebagai umat manusia, setiap manusia perlu hutan. Di hutan terdapat berbagai jenis binatang dan tumbuhan. Tumbuhan yang berada di hutan merupakan aspek yang paling penting untuk manusia. karena manusia memerlukan air untuk hidup dan tumbuhan yang berada di hutan dapat menahan air hujan sehingga persediaan air dapat terjaga dan selalu ada. Dan dengan begitu juga banjir, longsor, dan sejuta gejala alam lainnya tidak akan terjadi apabila tumbuhan di hutan masih tetap ada.

9.       Paragraf definisi
Rumah merupakan tempat untuk berlindung, tempat istirahat, tempat untuk berkumpul bersama keluarga. Rumah merupakan hak asasi bagi setiap orang, bagi setiap anak di dunia. Rumahku Surgaku adalah satu istilah yang berarti rumah yang nyaman dan aman, tempat untuk berlindung, tempat istirahat, tempat untuk berkumpul bersama keluarga. Dan merupakan hak asasi bagi setiap anak di dunia.
 
10.   Paragraf deskriptif
Waktu itu saya mengikuti mata kuliah pengantar ilmu sosial budaya. Kemudian saya mendengarkan penjelasan tentang keluarga yang harmonis memiliki tiga syarat untuk mewujudkannya yaitu: Pertama peaceful, kedamaian atau sakinah dalam bahasa Arab; Kedua respect, perhatian atau mawadah; ketiga make happy, kasih sayang atau rahmah. Untuk membangun keluarga harmonis diperlukan pengorbanan dari semua anggota keluarga. Kemudian pak dosen pun menerangkan bahwa dengan terpenuhnya syarat keluarga harmonis maka fungsi keluarga yang sebenarnya akan tercapai.

Rumahku Surgaku


Rumah adalah tempat untuk kita kembali. Setelah seharian bekerja keras, belajar di kampus, berjualan di pasar, berolahraga, bermain dengan teman-teman, dan sejuta aktivitas lainnya dalam keseharian kita; tidak ada lagi tempat yang dituju oleh seseorang untuk beristirahat melepas penat, dan lelah mereka. Anak-anak, remaja, tua, muda, semuanya kembali ke rumah mereka untuk mendapatkan tempat yang nyaman dan perlindungan yang aman dari segala sesuatu yang mengancam mereka baik udara dingin maupun hal-hal lain yang tidak mereka inginkan.
Anak-anak jalanan ketika siang mereka pergi ke jalan untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri, dan di malam hari mereka kembali ke rumah mereka tempat mereka beristirahat dan berlindung dari dinginnya malam, bukan rumah yang seperti kita miliki tetapi rumah mereka adalah trotoar, gubuk kecil di bawah jembatan yang terbuat dari kardus dan potongan-potongan kayu. Di mana saja mereka (anak jalanan) dapat tertidur dan terlindung dari ancaman, maka mereka sebut itu rumah.
Dia hidup di kerasnya persaingan, hukum rimba benar-benar berlaku bagi mereka; yang kuat dialah yang bertahan. Segala cara dilakukan untuk dapat menyambung nyawa, tidak ada lagi rasa malu, tidak ada lagi rasa takut. Pantaslah kalau mereka (anak jalanan) menjadi brutal dan lepas dari aturan. Di samping itu, tidak ada bimbingan dari orang tua. Mereka hidup sendiri di tengah rimba yang penuh dengan hewan buas yang lapar. Kekerasan dan kekerasan itulah yang mereka hadapi setiap harinya.
Rumahku Surgaku, adakah? Mungkin bagi sebagian orang rumah mereka adalah surga bagi mereka, di rumah mereka mendapat kasih sayang, perhatian, dan juga perlindungan dari keluarganya. Tetapi bagi anak-anak jalanan istilah “rumahku surgaku” mungkin tidak pernah mereka rasakan, mereka tidak merasakan kasih sayang, perhatian, dan juga perlindungan dari siapa pun.

Anak jalanan sama halnya dengan anak korban “broken home”. Anak jalanan hidup sendiri di jalanan tanpa kasih sayang dari orang tua. Di mana pun dia berada tidak ada yang peduli padanya. Apapun yang dia lakukan tetap saja tidak ada yang peduli. Begitu juga dengan anak korban “broken home yaitu anak korban orang tuanya yang tidak bisa mempertahankan hubungan mereka. Orang tuanya tidak peduli lagi pada anak itu, orang tua mereka mengacuhkannya. Dia tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bagi mereka rumahku surgaku hanyalah celoteh belaka.
Waktu itu saya mengikuti mata kuliah pengantar ilmu sosial budaya. Kemudian saya mendengarkan penjelasan tentang keluarga yang harmonis memiliki tiga syarat untuk mewujudkannya yaitu: Pertama peaceful, kedamaian atau sakinah dalam bahasa Arab; Kedua respect, perhatian atau mawadah; ketiga make happy, kasih sayang atau rahmah. Untuk membangun keluarga harmonis diperlukan pengorbanan dari semua anggota keluarga. Kemudian pak dosen pun menerangkan bahwa dengan terpenuhnya syarat keluarga harmonis maka fungsi keluarga yang sebenarnya akan tercapai.
Anak jalanan mendapat perlakuan keras dari orang-orang di sekitarnya, anak korban broken home di acuhkan oleh orang tua mereka. Tidak ada dari mereka yang mendapat perlakuan pantas dan kasih sayang yang cukup dari orang yang seharusnya menjadi pelindung dan juga pengayom mereka, yaitu orang tua mereka. Maka tidaklah mungkin mereka merasakan apa yang orang sebut dengan “rumahku surgaku”.
Rumahku surgaku tentunya sering mereka dengar dari orang-orang di sekitar mereka; mereka tentunya akan penasaran dan akan bertanya-tanya tentang arti istilah “rumahku surgaku”. “Rumahku surgaku”, mereka pikir bagi mereka hanya impian belaka karena mereka tidak memiliki orang tua yang harusnya dapat memberi mereka kasih sayang dan perlindungan. Kasih sayang dan perlindungan juga tidak didapatkan oleh anak-anak korban orang tuanya yang bercerai. Bahkan ada satu grup Band saat ini yang mengangkat lagu dengan tema anak korban broken home.
Permasalahan ini menarik perhatian orang banyak, bahkan pemerintah. Mereka melakukan bantuan kepada anak-anak itu agar mereka dapat merasakan indahnya rumah dengan berbagai cara. Contohnya sekarang pemerintah membangun rumah-rumah singgah untuk anak-anak jalanan. Hal ini sangat berarti bagi anak-anak jalanan karena dengan begitu mereka dapat merasakan tinggal di tempat yang layak huni. Contoh lain adalah bantuan tenaga pengajar gratis dari LSM (lembaga swadaya masyarakat) dengan memberikan pelajaran-pelajaran kepada anak jalanan sebagai bekal hidup bagi mereka. Dengan begitu sedikitnya anak-anak itu dapat merasakan suasana rumah.
Rumah merupakan tempat untuk berlindung, tempat istirahat, tempat untuk berkumpul bersama keluarga. Rumah merupakan hak asasi bagi setiap orang, bagi setiap anak di dunia. Rumahku Surgaku adalah satu istilah yang berarti rumah yang nyaman dan aman, tempat untuk berlindung, tempat istirahat, tempat untuk berkumpul bersama keluarga. Dan merupakan hak asasi bagi setiap anak di dunia.

Rangkuman Sosiolinguistik


Sosiolinguistik adalah bidang ilmu antar disiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat.
Kegunaan sosiolinguistik adalah memberikan pengetahuan tentang bagaimana menggunakan bahasa. Sosiolinguistik menjelaskan bagaimana menggunakan bahasa itu dalam aspek atau segi sosial tertentu, seperti dirumuskan Fishman (1967:5)bahwa yang dipersoalkan dalam sosiolinguistik adalah, “who speak, what language, to whom, when, and to what end”. Bila di kehidupan praktis kegunaan sosiolinguistik adalah untuk membantu menggunakan bahasa, ragam bahasa, atau gaya bahasa yang tepat bila digunakan dengan berbagai orang yang berbeda; dalam pengajaran bahasa di sekolah, sosiolinguistik juga mempunyai peranan besar. Sosiolinguistik juga dapat memberi sumbangan dalam mengatasi ketegangan politik akibat persoalan bahasa.
Hubungan bahasa dan tingkatan sosial masyarakat bisa dijelaskan dengan terlebih dulu mengerti tentang apa itu tingkatan sosial di dalam masyarakat itu. Adanya tingkatan sosial di dalam masyarakat dapat dilihat dari dua segi: pertama, dari segi kebangsawanan, kalau ada; dan kedua, dari segi kedudukan sosial yang ditandai dengan pendidikan dan perekonomian yang dimiliki. Misalkan saja di jawa, di sana masih terdapat sistem kebangsawanan dan di setiap strata sosialnya itu menggunakan ragam bahasa yang berbeda.
Berbagai variasi bahasa menurut penuturnya dapat dibedakan sebagai berikut, idiolek, dialek, kronolek, dan sosiolek; secara lebih lanjut pembagian variasi bahasa itu adalah akrolek (dialek yang dianggap lebih tinggi), basilek (dialek yang dianggap kurang bergengsi), vulgar (kurang terpelajar), slang (dialek yang bersifat khusus dan rahasia), kolokial (variasi bahasa percakapan), jargon (variasi bahasa terbatas oleh kelompok tertentu), argot (khusus dan terbatas pada profesi tertentu), dan ken (bahasa yang memelas seperti bahasa peminta-minta).
Bilingualisme dan diglosia (suatu situasi yang seimbang di mana dua ragam bahasa dipakai) itu saling berkaitan, walaupun keduanya tidak harus selalu ada dalam setiap kesempatan.
Alih kode adalah di mana seseorang mengganti ragam bahasa yang dipakainya dengan ragam bahasa yang lain, sedangkan campur kode adalah penggunaan dua ragam bahasa dalam satu tindak tutur.
Langage adalah bahasa pada umumnya, bukan merupakan suatu bahasa secara khusus. Langue adalah sebuah sistem lambang bunyi yang dipakai suatu masyarakat tertentu, atau dalam kata lain bahasa secara khusus. Sedangkan parole adalah sikap konkret dari langage dan langue, atau dengan kata lain adalah pengucapan atau tindak berbahasa.
Interferensi dan integrasi sangat berkaitan dengan alih dan campur kode, dan keduanya juga merupakan akibat dari adanya bilingualisme dan diglosia. Interferensi ialah campur kode di mana penggunaan ragam bahasa lainnya itu merupakan suatu kesalahan dan penyimpangan karena menyalahi aturan tata bahasa, biasanya ini terjadi karena penutur memiliki kompetensi yang masih minim, misalkan dalam pembendaharaan kata, di bahasa keduanya (B2). Sedangkan integrasi adalah proses di mana suatu bahasa diserap ke dalam bahasa lain dengan dalih masih kurangnya pembendaharaan kata di pihak resipien.

sumber : Chaer, Abdul. Psikolinguistik ...