BAB 1
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan manusia tentu tidak
lepas dengan hal yang berbau budaya dan agama. Acapkali dalam beberapa kasus
ditemukan penggunaan sarana budaya dalam penyebaran hal-hal keagamaan, hal ini
tidaklah menjadi jelek, karena beragama adalah hal yang merupakan hak asasi
yang dimiliki oleh setiap orang di mana pun berada, memilih agama sesuai dengan
keyakinan tidak ditentukan baik oleh orang tua atau pun oleh negara, semuanya
adalah murni hak pribadi.
Khususnya
umat agama Islam memiliki tempat peribadatan yang seringkali disebut masjid,
masjid biasanya berupa bangunan yang lapang, bersih, memiliki mimbar[1],
memiliki tempat bersuci[2],
dan menghadap ke arah kiblat[3]. Dalam
artikel di salah satu website di internet dikemukakan pengertian masjid sebagai
berikut. Masjid atau mesjid adalah rumah tempat ibadah umat Muslim. Masjid
artinya tempat sujud, dan mesjid berukuran kecil juga disebut musholla, langgar
atau surau. Selain tempat ibadah masjid juga merupakan pusat kehidupan
komunitas muslim. Kegiatan - kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian
agama, ceramah dan belajar Al Qur'an sering dilaksanakan di Masjid. Bahkan
dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial
kemasyarakatan hingga kemiliteran (Wikipedia, 2013) . Jika dikaji dari
segi etimologisnya juga dari situs di internet, masjid adalah sebagai berikut
Masjid berarti tempat beribadah. Akar kata dari masjid adalah sajada dimana
sajada berarti sujud atau tunduk. Kata masjid sendiri berakar dari bahasa Aram.
Kata masgid (m-s-g-d) ditemukan dalam sebuah inskripsi dari abad ke 5 Sebelum
Masehi. Kata masgid (m-s-g-d) ini berarti "tiang suci" atau
"tempat sembahan". Kata masjid dalam bahasa Inggris disebut mosque.
Kata mosque ini berasal dari kata mezquita dalam bahasa Spanyol. Dan kata
mosque kemudian menjadi populer dan dipakai dalam bahasa Inggris secara luas (Wikipedia, 2013) .
Pada
awalnya masjid dibangun pertama kali oleh nabi Muhammad SAW di Madinah, yang kemudian
sekarang masjid tersebut dikenal dengan masjid Nabawi yang berarti masjid nabi (Wikipedia, 2013) . Tetapi kemudian
masjid-masjid semakin banyak dibangun ke semua penjuru dunia hingga ke
Indonesia, sampai juga ke Jawa Barat. Bentuk masjid bermacam-macam disesuaikan
dengan arsitektur yang berlaku di tempat tertentu di mana masjid itu di bangun.
Penulis
di sini meneliti tentang makna-makna yang terkandung dalam keindahan seni
arsitektur Masjid As Siraj Cipadung, di mana masjid ini memiliki tingkat
keunikan tersendiri, dibangun pada tahun 1964 dengan bergaya arsitektur khas
jawa tengah tetapi di bangun di wilayah yang sangat berbeda budayanya yaitu di
Cipadung, Bandung-Jawa Barat (Agus, 2011) .
1.1.Latar Belakang
Penelitian
Masjid
As Siraj yang juga dikenal sebagai masjid Patal oleh warga sekitar adalah
masjid yang semulanya diperuntukkan bagi karyawan perusahaan Patal Cipadung,
masjid tersebut didirikan pada tahun 1964 (Agus, 2011) , perusahaan Patal
Cipadung sendiri mulai dibangun pada tahun 1962 bersamaan dengan perusahaan
tekstil lainnya yang berada di bawah naungan pemerintah karena termasuk BUMN, sampai
pada tahun 1967 berada di bawah naungan PT. Sandang, dan pada tahun 2000 berada
di bawah nauangan PT. Sandang I yang berpusat di Jakarta (Andhika, 2005) . Tetapi pada tahun
2005 bahkan Masjid unik ini pun sempat akan dijual karena pailit yang dialami
oleh perusahaan tersebut, tetapi dengan berbagai pertimbangan maka masjid ini
tetap berdiri sampai sekarang.
Penulis
tertarik meneliti Masjid ini karena keunikan arsitekturnya yang memadukan dua
budaya, jawa dan sunda, karena arsitektur masjid ini mengadopsi arsitektur
masjid demak yang menganut budaya jawa dengan gaya joglo. Tetapi tidak semua
aspeknya, hanya pada bagian atapnya saja yang menganut gaya tersebut (Yosep, 2013) .
Dalam penelitian ini, maka penulis
akan menggunakan teori semiotik dari Charles Sander Peirce. Teori semiotik
Peirce dikenal sebagai teori semiotik komunikasi yang bebas dari
strukturalisme. Menurut Peirce terdapat prinsip mendasar dari sifat tanda yakni
1) sifat representatif, dan 2) sifat interpretatif. Sifat representatif tanda berarti tanda merupakan sesuatu yang
mewakili sesuatu yang lain Sedangkan sifat interpretatif artinya bahwa
tanda tersebut memberikan peluang bagi interpretasi tergantung kepada siapa
yang memakai dan menerimanya. (Rusmana, Dadan. 2005:52).
Melalui teori ini, penulis akan
mencoba menginterpretasikan pemahaman yang didapat dari hasil penelitian, dan
tentu saja dengan disertai penjelasan dari narasumber yang dipercaya.
1.2.Lokasi dan Waktu
Penelitian
Penelitian dilakukan di
mesjid As Siraj, Cipadung, pada hari Kamis, tanggal 10 November 2013. Penelitian
dibantu oleh seorang pengurus DKM As Siraj Cipadung, Bapak. H. Ahmad Ridwan,
S.Ag., dan seorang jamaah mesjid sebagai narasumber, juga berbagai literature
berkaitan dengan tema penelitian dari berbagai sumber.
1.3.Langkah-langkah
Penelitian
Penelitian
dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Penulis
mendatangi mesjid yang menjadi lokasi penelitian.
2. Penulis
mencari anggota DKM mesjid untuk meminta izin melakukan penelitian.
3. Penulis
lalu mulai melihat-lihat seni arsitektur pada bangunan mesjid tersebut dan mencatat
hal-hal yang dianggap menarik serta mengambil gambarnya menggunakan kamera.
4. Penulis
kembali mendatangi anggota DKM untuk meminta penjelasan terkait hal-hal yang
baru saja didapatkan.
5. Penulis
melakukan wawancara dengan anggota DKM tersebut untuk mengetahui sejarah
berdirinya mesjid dan makna dari segi arsitektur yang penulis amati.
6. Penulis
kemudian melakukan wawancara pada seorang jamaah masjid bersangkutan untuk dimintai
komentarnya mengenai makna dari arsitektur masjid bersangkutan.
7. Hasil
penelitian dikaji ulang di tempat terpisah sambil menyusun laporan hasil
akhirnya.
1.4.Rumusan Masalah
Dari
kaca mata penulis, akan ada banyak sekali masalah yang dapat dihasilkan berkaitan
dengan penelitian ini, tetapi dengan segala keterbatasan penulis, maka dengan
ini penulis batasi rumusan masalah penelitian sebagai berikut.
1. Bagaimana
makna yang terkandung dalam arsitektur Masjid As Siraj Khususnya pada dinding
kaca, atap dengan gaya Joglo, dan simbol bulan bintang di puncak atap masjid?
2. Apakah
hubungan arsitektur masjid tersebut dengan pelestarian budaya?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Arsitektur Masjid As Siraj Cipadung
Masjid
As Siraj terletak di pinggir Jalan, tepatnya di Jalan A.H. Nasution nomor 274,
Cipadung, Kecamatan Panyileukan, Bandung-Jawa Barat. Masjid As Siraj terlihat
berbeda dari masjid-masjid di perkotaan pada umumnya yang memakai tembok dan
kubah dari bahan metal baik tembaga atau pun stainless steel. Pada ujung atapnya masjid ini memiliki lambang
bulan dan bintang yang memang lazim ada pada masjid pada masanya. Kemudian hal
yang paling terlihat berbeda terutama dengan masjid yang berada di daerah sekitarnya
adalah bentuk atap yang mengadopsi gaya khas rumah Jawa yaitu Joglo, berikut
lebih jelasnya dikutip dari artikel di situs bimbingan.org tentang rumah Joglo,
Rumah Joglo adalah rumah adat khas Jawa, atapnya berbentuk trapesium, menjulang
ke atas berbentuk limas. Teras depan umumnya lebar dan ruang tengah tanpa
sekat. Rumah Joglo lebih dikenal di Jawa Tengah daripada di Jawa Barat dan Jawa
Timur (org., 2013) . Kemudian hal
lainnya yang menarik dari arsitektur mesjid ini adalah tidak adanya kaligrafi
di dalamnya, dinding hanya dicat dan ditempeli dengan keramik sebagai seninya,
hal lainnya yang menarik adalah dinding hanya ada pada bagian depan saja, yaitu
pada bagian yang dihadapi oleh jamaah, yang lainnya, pada bagian samping kiri,
kanan, dan belakang dinding rata-rata adalah dari kaca; hal ini juga menjadikan
Masjid ini oleh DKM disebut sebagai masjid Kaca (Yosep, 2013) .
Arsitektur
masjid ini tidak mengalami perubahan yang signifikan, jadi dari awal mula
dibangun kurang lebih masih seperti itu saja, hanya ada perbaikan dan
pengecatan saja di tempat yang termakan usia, tapi masjid ini juga mengalami
renovasi pada tahun 2000 yaitu peluasan masjid untuk memenuhi keperluan jamaah,
yaitu pelebaran dan penambahan teras masjid ke samping kiri dan kanan (Yosep, 2013) . Dengan renovasi
tersebut, luas masjid bertambah menjadi 3200m dari awalnya 1300m (Agus, 2011) . Lantai masjid
terbuat dari marmer, memberikan suasana yang adem khas masjid pada umumnya,
dilengkapi juga dengan berbagai fasilitas lain yaitu, toilet untuk pria dan
juga wanita secara terpisah, tempat wudhu pria dan wanita secara terpisah,
lahan parkir kendaraan, madrasah untuk mengaji anak-anak, tempat pengobatan
terapi tiga dimensi, kantor DKM, tempat penitipan barang, kolam dan taman, dan
dinding koran[4].
Di dalam masjid tidak terdapat satu pun tiang, tetapi di luar yaitu di teras
masjid terdapat belasan tiang yang berdiri menambah kesan “joglo” masjid
tersebut.
2.2. Pembahasan
Sejalan
dengan konsep mengenai tanda yang dikemukakan oleh Peirce, “In its simplest form, the Peircean sign
has been defined as something that relates to something else for someone in
some respect or capacity.”(konsep tanda menurut Peirce didefiniskan sebagai sesuatu yang
mewakili sesuatu yang lain). (Merrell:1997). Maka penulis berpendapat bahwa di
setiap sudut arsitektur mesjid ini terdapat makna tersendiri yang melambangkan
suatu maksud atau tujuan tertentu. Adapun penjelasan
dari tiap sudut bangunan masjid dari sudut pandang penulis diuraikan sebagai
berikut:
1. Dinding
kaca yang banyak terdapat di Masjid As Siraj ini berhubungan dengan nama masjid
ini sendiri, As Siraj adalah bahasa arab yang kemudian bila diartikan ke dalam
bahasa Indonesia yaitu lentera, seperti tertulis di harian republika, menurut
Ketua DKM As Siraj, Deni Waluyo, Masjid ini diberi nama oleh tokoh Masyarakat
Cipadung, Ma’mun, dengan tujuan tiada lain agar masjid ini dapat menjadi
“lentera” penerang bagi khususnya perusahaan Patal Cipadung yang bersangkutan
pada waktu itu, dan umumnya bagi warga sekitar serta jamaah Masjid As Siraj
sendiri (Agus, 2011) . Tak terbayangkan
bagaimana arsitektur dari perusahaan patal ini berkontemplasi menyesuaikan nama
Masjid dan bangunannya, karena sesuai sekali bentuk lentera itu memiliki banyak
kaca di tengahnya[5].
Dan pada dinding kaca ini juga terdapat ciri khas Joglo yaitu terdapatnya tiga
buah pintu masuk, yang memiliki makna filosofis sebagai berikut, Pada bagian
pintu masuk memiliki tiga buah pintu,yakni pintu utama di tengah dan pintu
kedua yang berada di samping kiri dan kanan pintu utama. Ketiga bagian pintu
tersebut memiliki makna simbolis bahwa kupu tarung yang berada di tengah untuk
keluarga besar, sementara dua pintu di samping kanan dan kiri untuk besan, hal
ini melambangkan bahwa tamu itu adalah raja yang harus di hormati dan di
tempatkan di tempat yang berbeda dengan keluarga inti ataupun keluarga dari
mempelai, demi menghormati kehadiran mereka dan memberi tempat yang berbeda
dari keluarga sendiri dan itu adalah cara atau tata krama yang pantas untuk
menyambut tamu (Fajri, 2012) . Tetapi hal itu
berlaku untuk Joglo jika pada bangunan berbentuk rumah dan apabila pada
bangunan masjid hal itu tidak berlaku karena di masjid strata sosial walau pun
berbeda tetapi dianggap sama, jadi adanya tiga pintu masuk itu adalah hanya
sebagai adaptasi budaya saja.
2. Pemakaian
atap dengan gaya khas joglo memiliki beberapa makna, dari pandangan penulis,
arsitek yang disebutkan dari Jawa ini mengadopsi keagungan simbol Joglo itu
sendiri, dan juga membawa agar jamaah yang kebanyakan dari Jawa itu betah (Yosep, 2013) . Filosofi khas joglo
ini di antaranya adalah sebagai berikut:
Filosofis dan rumah adat Joglo bisa
dilihat dari bangunannya yang berpilar empat, ditopang oleh soko guru.
Komposisi ruangan yang ada pada rumah Joglo terdiri dan pendopo (ruang
pertemuan), pringgitan (ruang pementasan) dan dalem (ruang keluarga). Di dalam
rumahjoglo terdapat tiga senthong (kamar) terletak di sebelah kin, tengah, dan
kanan.
Dalam tradisi Jawa yang diterapkan pada desain
rumah Joglo adalah setiap ruangan memiliki arti tersendiri. Bagian depan untuk
kebutuhan umum, bagian belakang khusus untuk pemilik rumah. Zaman dahulu, dalam
satu ruang di rumah Joglo “disediakan” tempat khusus untuk Dewi Sri (dewi
kesuburan) yang membawa kemakmuran bagi keberhasilan hasil panen pertanian.
Ruangan itu selalu kosong dan disebut krobongan (kamarnya kosong tetapi isinya
lengkap selaiknya sebuah kamar tidur).
Arti
dan Makna Ruang-ruang dalam Rumah Joglo
a. Pendopo
tidak memiliki dinding dan selalu terbuka. Tanpa kursi dan meja. Bermakna
kepribadian Jawa yang selalu ramah dan terbuka kepada siapa saja. Tidak ada
kursi dan meja melambangkan keseteraan antara tamu dan pemilik rumah agar
terasa dekat. Pendopo terdiri dan soko guru, soko pengerek, dan tumpang sari.
b. Pringgitan
perlambang kemakmuran. ini dimaksudkan agar pemilik rumah selalu bahagia,
rukun, subur, dan sentosa. Bagian ini merupakan penghubung antara pendopo dan
rumah dalem.
c.
Dalem ruang mi adalah ruang privasi.
Tempat Dewi Sri tinggal.
d. Sentong
kamar tidur.
e.
Gandok tengen dan kiwo bangunan yang
menempel di dinding bagian kanan dan kiri rumah. (org., 2013) .
Namun
hal di atas adalah filosofis terhadap adat Joglo pada bangunan yang berupa
rumah. Dan apabila diterapkan pada Masjid As Siraj maka terlihat beberapa
kesamaan, Masjid As Siraj memiliki selasar depan yang dapat difungsikan juga
disebut sebagai pendopo dan sesuai dengan kutipan di atas bermakna terbuka
sesuai dengan kepribadian orang Jawa dan tentunya masjid ini juga terbuka untuk
siapa saja. Untuk soko-sokonya di Masjid ini digunakan belasan tiang yang
dibalut marmer sebagai penghias sesuai dengan ciri khas gaya Joglo. Di Masjid
ini juga terdapat ruang di belakang yang difungsikan untuk DKM dan terapi tiga
dimensi serta untuk belajar anak-anak sesuai dengan kutipan di atas yaitu
bagian khusus untuk pemiliki rumah, tapi sayangnya tidak ada tempat khusus yang
selalu kosong di Mesjid ini. Untuk Gandok tengen dan kiwo[6] maka
sesuai juga dengan masjid As Siraj yang memiliki bangunan di sebelah kanannya
yaitu yang tiga tadi, tempat DKM dan lainnya dan di sebelah kiri adalah jalan
untuk menuju ke tempat wudlu dan toilet.
Dan
dikutip dari satu artikel di internet bahwa makna filosofis yang paling utama
dari atap dengan gaya Joglo ini adalah Atap joglo selalu terletak di
tengah-tengah dan selalu lebih tinggi serta diapit oleh atap serambi. Bentuk
gabungan antara atap ini ada dua macam, yaitu: Atap Joglo Lambang Sari dan Atap
Joglo Lambang Gantung. Atap Joglo Lambang Sari mempunyai ciri dimana gabungan
atap Joglo dengan atap Serambi disambung secara menerus, sementara atap Lambang
Gantung terdapat lubang angin dan cahaya, dan hal ini melambangkan filosofi
kehidupan manusia, bahwa kehidupan semakin sukses (berada diatas) maka cobaan
pun akan semakin berat, semakin kuat diterpa angin, dan selalu rawan untuk
jatuh apabila tidak hati-hati, dan alangkah baiknya jika hidup kita seperti
kontruksi Rumah dan Penataan Ruang pada Rumah joglo ini, yang saling mengikat
satu sama lain, mengormati, bantu membatu, dan tidak ada yang dirugikan (Fajri, 2012) .
3. Makna
bulan sabit dan bintang di puncak atap, kerap kali terlihat di puncak atap
masjid terlihat bentuk bulan bintang, sebenarnya apa makna dibalik bulan
bintang tersebut. Ternyata makna bulan bintang tersebut adalah sebagai
pengingat akan jayanya umat Islam di zaman Turki Utsmani, karena pada waktu itu
Islam sempat menguasai dua pertiga dunia, tiga benua besar dikuasai Islam yaitu
Asia, Eropa, dan Afrika. Ini ditandai dengan takluknya konstantinopel oleh
Islam saat itu.
Saat itu bulan sabit
digunakan untuk melambangkan posisi tiga benua itu. Ujung yang satu menunjukkan
benua Asia yang ada di Timur, ujung lainnya mewakili Afrika yang ada di bagian
lain dan di tengahnya adalah Benua Eropa. Sedangkan lambang bintang menunjukkan
posisi ibu kota yang kemudian diberi nama Istambul yang bermakna: Kota Islam.
Bendera bulan sabit ini
adalah bendera resmi umat Islam saat itu, karena seluruh wilayah dunia Islam
berada di bahwa satu naungan khilafah Islamiyah. Tidak seperti sekarang ini
yang terpecah-pecah menjadi sekian ratus negara yang berdiri sendiri hasil dari
jajahan barat.
Wajar kalau lambang itu
begitu melekat di hati umat dari ujung barat Maroko sampai ujung Timur Marauke.
Inilah lambang yang pernah dimiliki oleh umat Islam secara bersama, bulan dan
bintang. Dan lambang ini kemudian seolah menjadi lambang resmi umat Islam dan
selalu muncul di kubah-kubah masjid. Dan kalau kita perhatikan, nyaris hampir
semua kubah masjid di berbagai belahan dunia punya lambang ini (Sarwat, 2007) .
Begitulah makna dari
simbol bulan bintang yang banyak berada di puncak-puncak masjid selama ini, hal
ini juga termasuk akulturasi budaya Islam yang masuk ke Indonesia, tetapi tidak
merusak budaya asli Indonesia.
Namun dalam teori Peirce pun dikenal
sifat interpretatif tanda, “Signs can also become other signs and
in the process take on radically distinct meanings, depending upon the set of
experiences and the expectations of the signs ’interpreters.” (tanda
bisa menjadi tanda lain dan dalam proses pemahamannya tanda memberikan peluang
bagi interpretasi tergantung kepada siapa yang memakai dan menerimanya).
(Merrell:1997)
Dalam penelitian ini pun terdapat
beberapa penafsiran berbeda yang berasal dari asumsi jamaah mesjid mengenai
arsitektur mesjid As Siraj. Salah satunya adalah seperti pernyataan seorang
jamaah yang diwawancarai di Masjid As Siraj, dia[7]
berkomentar bahwa arsitektur masjid tersebut menggambarkan ciri khas jaman
dulu, ketika lebih lanjut ditanyakan tentang hal apa yang paling mencirikan
pada jaman dulunya lalu dia menjawab salah satunya adalah genting dan lantai,
ketika ditanya mengenai dinding kaca dia menjawab bahwa itu ditujukan agar
suasana masjid menjadi lebih nyaman saja (Yosep, 2013) .
Dan pendapat lain yaitu dari narasumber yang tidak lain DKM As Siraj, Ahmad
Ridwan, mengatakan hal yang tidak jauh beda dengan penafsiran penulis[8].
Terdapat
sedikit perbedaan antara tafsiran penulis dan beberapa narasumber yang
diwawancarai, tetapi hal itu adalah wajar karena sesuai dengan teori Peirce,
beda penafsir maka akan beda pula tafsiran yang dihasilkan, karena berbagai
faktor.
BAB III
KESIMPULAN
3.1. Kesimpulan
Masjid
As Siraj merupakan masjid yang sudah cukup tua dan memiliki banyak sekali makna
yang terkandung di balik keindahan arsitekturnya. Secara keseluruhan mengadopsi
gaya arsitektur Joglo khas Jawa yang kental akan filosofis sosial dan
transendental. Dari mulai pendopo sampai puncak atap yang berupa bulan bintang
memiliki makna tersendiri yang bila dikaji lebih jauh mungkin dapat dijadikan
satu bahasan yang lebih menarik lagi dan akan banyak melebar ke disiplin ilmu
yang lainnya.
Dari
Arsitektur As Siraj ini juga terlihat adanya beberapa perpaduan budaya, antara
budaya Sunda, Jawa, dan budaya Islam yang tidak lain dari kejayaan Turki
Utsmani. Akulturasi budaya yang ada itu tidak mematikan pihak manapun dan
justru melahirkan kesan yang unik yang memikat semakin banyak pengunjung dan
tentunya jamaah bagi masjid transit ini.
Semoga
tulisan ini dapat menjadi titik mula dimulainya penelitian lebih lanjut
terhadap makna yang dikandung masjid As Siraj atau pun masjid-masjid lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Merrell, F. (1997) Peirce, Signs
and Meaning, Toronto and London: University of TorontoPress.
Rusmana, Dadan. (2005) Tokoh dan Pemikiran Semiotik. Bandung:
Tazkiya Press.
Agus. (2011). Masjid As Siraj Lentera Bagi
Masyarakat Sekitar. Kabar Jabar .
Andhika, W. (2005). Pengendalian Kualitas Benang Per
Cone di PT Sandang Secang Cipadung. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Fajri, A. J. (2012, June 26). blogspot.com.
Retrieved November 11, 2013, from Achmad Junal Fajri:
http://achmad-jf.blogspot.com/2012/06/makna-simbolis-pada-tata-ruang-rumah.html
org., B. (2013). Bimbingan org. Retrieved November
11, 2013, from Bimbingan, bimbingan gratis untuk semua:
http://www.bimbingan.org/sejarah-rumah-joglo.htm
Sarwat, A. (2007, March 26). eramuslim.com.
Retrieved November 9, 2013, from eramuslim:
http://www.eramuslim.com/negara/lambang-bulan-sabit-dan-bintang.htm
Wikipedia, T. P. (2013, Oktober 28). Wikipedia.org.
Retrieved November 8, 2013, from Wikipedia Ensiklopedia Bebas:
http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid
Yosep, M. (Composer). (2013). Filosofi dan Sejarah
Arsitektur Masjid As Siraj. [A. Ridwan, Performer, & E. Tazkia,
Conductor] Bandung, Jawa Barat, Indonesia.
LAMPIRAN
Untuk
video wawancara dapat diakses di https://www.facebook.com/mochamad.yosep.7/videos
(proses uploading sampai 13 November 2013)[9]
Foto
Masjid As Siraj dari depan (diambil hari Kamis 7 November 2013 oleh penulis)
Berikut
adalah artikel dari harian Republika
[1] Mimbar adalah tempat untuk khotib dalam melaksnakan ceramah keagamaan.
[2] Tempat bersuci di sini adalah tempat untuk berwudhu, berupa pancuran
dengan berbagai bentuk, digunakan untuk melakukan ritual berwudhu sebelum
melaksanakan shalat.
[3] Kiblat adalah bangunan yang menjadi arah beribadat bagi semua umat
Islam di dunia, letak ka’bah yaitu berada di Makkah, Arab Saudi.
[4] Dinding koran adalah dinding yang terletak di depan masjid, seperti
papan pengumuman yang berisi koran harian yang selalu update setiap hari.
[5] Untuk hal ini penulis memiliki kekurangan referensi dan waktu penelitian,
karena untuk memperjelas dari mana dan bagaimana hubungan antara bentuk
bangunan yang banyak kaca ini dibentuk dan diselaraskan dengan namanya, yang
menjadi masalah adalah apakah ini termasuk filosofi modern atau kah
tradisional. Modern di mana terdapat gambaran dulu sebelum ada riilnya, dan
tradisional di mana pemahaman dan pemberian makna diberikan seiring dengan
berjalannya waktu (riilnya dulu baru pemaknaan).
[6] Tengen adalah bahasa jawa untuk kanan, dan kiwo adalah kiri.
[7] Nama jamaah tidak disebutkan karena dalam wawancara, pewawancara tidak
menyertakan nama narasumber.
[8] Narasumber ini hanya memberikan beberapa makna mengenai nama masjid,
As Siraj yang berarti lentera, dan konteks arsitektur masjid yang mengadopsi
gaya arsitektur Joglo khas Jawa.
[9] Dapat dilihat di situs tersebut dimulai dari tanggal 13 November 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar