Masa kanak-kanak adalah masa emas perkembangan
otak, hal ini merupakan suatu keuntungan bagi kita sebagai pihak yang
berkewajiban mengurus anak-anak itu untuk melakukan suatu penerapan budaya yang
baik bagi anak tersebut. Penerapan norma-norma, nilai, dan juga berbagai aspek
kehidupan yang sesuai dengan adat, agama dan juga negara. Penerapan budaya yang
kurang optimal di masa-masa keemasan perkembangan otak anak ini sungguh
disayangkan karena itu berarti kita telah membuang suatu kesempatan emas untuk
memberikan warisan terindah bagi anak-anak itu.
Kenapa enkulturasi?
Menurut John Bedley, seorang anak tidaklah langsung terlahir dengan
menguasai suatu kebudayaan, tetapi sebenarnya mereka itu harus mempelajari
kebudayaan. Sebagai contoh seorang anak atau bayi yang baru lahir harus belajar
dulu untuk berbicara dan menguasai sebuah bahasa juga dia harus mematuhi
peraturan yang berlaku di masyarakat di mana dia tinggal. Di berbagai tempat,
semua orang haruslah belajar untuk bisa hidup mandiri, mencari makan dan
menyiapkan makan sendiri, membuat tempat perlindungan untuk dirinya sendiri. Di
tempat lain, orang-orang harus belajar untuk mencari nafkah dan menghidupi
dirinya sendiri. Di semua tempat, anak-anak belajar tentang kebudayaan dari
orang dewasa, Antropolog menyebut hal ini sebagai enkulturasi atau
perpindahan budaya atau transfer budaya.[1]
Upaya enkulturasi merupakan suatu proses yang panjang. Untuk hanya belajar
bahasa saja yang merupakan bagian terpenting dari enkulturasi sudah membutuhkan
waktu bertahun-tahun. Suatu keluarga biasanya ada yang melindungi dan juga
melakukan enkulturasi terhadap anaknya sampai usia anak itu kurang lebih lima
belas tahun, walaupun ada juga keluarga yang melakukan hal serupa dalam waktu
yang berbeda, misalnya saja di Indonesia kebanyakan keluarga biasanya mempunyai
tanggung jawab untuk melakukan hal yang serupa sampai anak tersebut lulus dari
sekolah lanjutan tingkat atas atau sekolah yang setara. Dan setelah itu
anak-anak itu telah menginjak masa balignya, mereka sekarang telah memiliki
suatu kebebasan untuk mengatur hidupnya sendiri. Tetapi orang-orang juga ada
yang masih terus belajar selama hidupnya sehingga orang-orang akan menghormati
mereka karena kesungguhannya dalam belajar. Tetapi tidak semuanya dapat
berkembang sesuai dengan harapan orang pada umumnya, akan ada anak yang akibat
dari kesempatan emas yang dia miliki itu tidak dikembangkan secara optimal dan
akhirnya menjadikan perkembangan anak itu menjadi tidak optimal pula.
Permasalahan
Permasalahan
yang kemudian muncul saat ini sebenarnya bukanlah tentang orang tua yang tidak
bisa memanfaatkan enkulturasi dengan baik, karena sebenarnya seperti yang
dikatakan oleh John Bodley dalam artikelnya bahwa di semua tempat, anak-anak
belajar tentang kebudayaan dari orang dewasa.[2]
Maksudnya adalah anak-anak akan secara otomatis meniru budaya orang-orang
dewasa yang berada di sekitarnya, hal ini terbukti dengan adanya anak kecil
usia balita di Indonesia yang merupakan balita perokok termuda di dunia. Ini
akibat dari kelakuan orang-orang dewasa di sekitar balita tersebut yang
memiliki kebiasaan merokok, di samping itu juga kurangnya kesadaran dari pihak
orang-orang dewasa tersebut bahwa perilaku yang mereka perbuat di hadapan
anak-anak akan menjadi tuntunan bagi anak tersebut.
Ada
juga permasalahan lain yang mungkin muncul, permasalahan ini adalah ketika anak
kecil yang seharusnya memiliki budaya A karena dia tinggal di tempat A tetapi
karena orang tuanya tidak menginginkan anak itu memiliki budaya A maka anak
kecil itu di enkulturasi dengan budaya B, hal ini akan menjadi masalah ketika
anak itu dewasa atau ketika dia akan melaju ke tahap asimilasi dan dia akan
kebingungan dengan dirinya sendiri karena budayanya berbeda dengan budaya orang
di sekitarnya walaupun hal ini masih bisa ditanggulangi oleh anak itu sendiri
tetapi masalah ini bisa menimbulkan hilangnya suatu kebudayaan yang ada,
misalkan karena anak itu belajar budaya B maka budaya A ini menjadi terancam
keberadaannya.
Permasalahan
ketiga yaitu ketika anak yang tidak melalui proses enkulturasi yang maksimal
kemudian dia belum siap untuk berinteraksi dengan yang lainnya tetapi karena
waktu anak itu sudah tiba maka akan terjadi culture shock karena anak
itu tidak mengerti atau tidak mengetahui ada kebudayaan yang aneh di luar sana
yang dimiliki misalnya oleh teman-temannya, hal ini dapat berpengaruh pada
mental anak tersebut, bisa jadi anak itu minder tetapi bisa juga anak itu
menyesuaikan diri apabila tingkat culture shock-nya masih bisa dia
tanggulangi sendiri.
Secara
garis besarnya permasalahan yang dapat ditimbulkan dari kurang optimalnya
enkulturasi yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak akan menimbulkan dampak
yang negatif terhadap anak baik itu mental maupun cognitif-nya hal itu
juga akan memberikan dampak negatif pada kelanjutan budaya yang seharusnya
dapat terus dikembangkan oleh anak itu.
Strategi
Satu
strategi yang paling awal yang paling bisa dilakukan adalah dengan cara
mempelajari lima dimensi budaya seperti yang ditulis oleh Gert Jan Hofstede
dkk., yaitu identitas (identity), hierarki (hierarchy), gender, kepercayaan (truth), kebaikan (virtue) dan juga sikap sadar (awareness),
pengetahuan tentang budaya (knowledge) dan juga kemampuan untuk
berbudaya (skill).[3] Karena
setelah dikaji lebih dalam lagi, hal itu akan menjadi penting karena merupakan
pokok dari cross culture understanding. Lima identitas itu merupakan
dimensi-dimensi budaya yang bisa membedakan satu budaya dengan budaya yang
lainnya, dengan mengetahui dimensi tersebut maka akan timbullah perasaan atau
sikap kesadaran (awareness) dari yang mempelajarinya, dan dengan telah
menguasai ke lima dimensi pokok budaya tersebut maka berarti telah memiliki
pengetahuan (knowledge) tinggal belajar bagaimana untuk menyikapinya dan
mempraktekkan kesemuanya itu (skill).
Selain
menguasai tentang teori cross culture understanding seperti di atas maka
orang tua juga harus tahu tentang tahapan-tahapan perkembangan anak. Seperti
yang ditulis Ross A. Thompson bahwa walaupun manusia itu berkembang seumur
hidupnya tetapi masa anak baru lahir sampai anak-anak remaja adalah masa
perkembangan yang paling spektakuler,[4] karena
pada masa ini perkembangan terjadi pada fisik, intelektual, sosial dan
emosional. Selama periode perkembangan ini seorang bayi yang masih sangat
rentan ini berkembang menjadi seorang pribadi yang memiliki kemampuan khusus,
kepintaran intelektual dan sosial yang khusus pula.[5] Karena
itu peranan orang tua di sini sebagai pendukung kehidupan utama dari anak itu,
dan dari orang tua jugalah anak itu akan pertama kali belajar tentang budaya
dan segala aspek kehidupan lainnya. Dan dengan mengetahui perkembangan anak
maka orang tua dapat merancang suatu program untuk mendidik dan meenkulturasi
anaknya sebaik mungkin sesuai dengan perkembangan anak tersebut.
Seperti
yang telah dikaji dalam alinea permasalahan di atas maka kita bisa melihat
bahwa hal yang bisa menjadikan enkulturasi anak bermasalah adalah adanya pihak
masyarakat atau orang dewasa di sekitar anak itu yang tidak mempunyai kesadaran
dalam dirinya, mereka tidak sadar berperilaku seenaknya tanpa memperhatikan
bahwa perilaku mereka itu sebenarnya merupakan sumber bahan kajian anak-anak
yang bisa anak-anak itu tiru dan serap sehingga menjadi bagian atau menjadi
budaya dari anak tersebut. Soerjanto Poepowardojo menyebutkan untuk menimbulkan
kesadaran manusia itu maka perlu dikembangkan empirisme sebagai
orientasi yang terarah pada gejala-gejala objektif dan merumuskannya secara
kuantitatif. Di samping itu, empirisme harus disertai rasionalisme,
di mana akal budi mampu mengambil jarak terhadap objeknya dan melalui abstraksi
mampu merumuskan hasil pengetahuannya dalam prinsip-prinsip yang universal.
Dengan struktur pemikiran yang objektif ini, manusia mampu memahami hukum-hukum
alam dan merumuskannya dengan teliti.[6] Dan
walaupun begitu pada zaman yang telah modern sekarang ini masyarakat lebih
percaya terhadap ilmu sains, oleh karena itu kita juga bisa melibatkan
psikiater anak untuk diajak bicara sebagai sumber sehingga bila ada masyarakat
di sekitar yang masih belum sadar juga bisa menjadi sadar dengan adanya bantuan
dari ahlinya.
Satu
hal lagi yang perlu disadari oleh para orang tua, hal itu adalah konsep
pembangunan model modernisasi yang sekarang sedang gencar di mana-mana, memang
hal ini dapat memberikan keuntungan berganda, menetes ke lapisan bawah melalui
peningkatan pendapatan Negara. Dan dengan logika seperti itu kemiskinan
diyakini akan berangsur-angsur dapat dikurangi, namun sebenarnya dibalik itu
ada suatu hal yang terjadi bagi dunia negara ketiga, geliat modernisasi justru
menjerat mereka dalam bentuk kesulitan yang lain. Modernisasi ternyata telah
melahirkan fenomena ketergantungan dunia ketiga (miskin) kepada negara maju.[7] Di sisi
lain, ketimpangan hasil pembangunan di berbagai daerah yang saling berjauhan terjadi
kesenjangan yang tidak dapat dihindarkan, hal ini penting bagi orang tua untuk mengurangi dampak memburuknya
ekonomi terhadap perkembangan buah hati mereka di masa yang akan datang, oleh
karena itu walau orang tua mengurus anaknya tapi jangan dilupakan juga tentang
biaya hidup dan juga biaya untuk masa depan anak tersebut ke depannya.
Kesimpulan
Enkulturasi
adalah proses pengenalan budaya kepada anak yang dilakukan secara bertahap dan
dalam waktu yang cukup lama, proses enkulturasi ini mencakup segala aspek
budaya seperti bahasa, adat, kebiasaan dan juga pengetahuan. Masa kanak-kanak
merupakan masa-masa emas perkembangan anak dalam berbagai bidang, sosial,
fisik, psikologi, dan juga kognitifnya; sungguh sayang apabila masa-masa emas
anak ini tidak bisa kita optimalkan maka yang terjadi adalah ke sia-siaan. Oleh
karena itu seperti yang telah dikutip dari Exploring Culture maka
penting bagi orang tua dan juga orang di sekitar anak dan juga masyarakat
secara keseluruhan untuk memberikan suatu kesempatan untuk memperbaiki masa
depan dunia dengan cara sadar diri dan memberikan segala daya yang bisa
diperbuat untuk sang buah hati tercinta. Jangan sampai budaya kita hilang atau
juga jangan sampai budaya kita malah menjadikan anak kita itu menderita.
[1] Bodley, John H. "Culture." Microsoft®
Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.
[2] Bodley, John H. "Culture." Microsoft®
Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.
[3] Hofstede, Gert Jan. Exploring Culture: Exercises, Stories and Synthetic
Cultures/Gert Jan Hofstede, Paul B. Pedersen, Geert H. Hofstede. Intercultural
Press. New York. 2002.
[4]Microsoft Encarta.2008
[5]Microsoft Encarta.2008
[6] Poespowardojo, Soerjanto. Strategi Kebudayaan: Suatu Pendekatan Filosofis.
Gramedia. Jakarta. 1993.
[7] Fauzia, Amelia. Realita dan Cita Kesetaraan Gender di UIN Jakarta/Amelia
Fauzia, Lisa Noor Humaidah, Noryamin Aini, Yuniyanti Chuzaifah.
McGill-IAIN-Indonesia Social Equity Project. Jakarta. 2004.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar