Jumat, 05 April 2013

upaya optimalisasi enkulturasi budaya sejak dini


Masa kanak-kanak adalah masa emas perkembangan otak, hal ini merupakan suatu keuntungan bagi kita sebagai pihak yang berkewajiban mengurus anak-anak itu untuk melakukan suatu penerapan budaya yang baik bagi anak tersebut. Penerapan norma-norma, nilai, dan juga berbagai aspek kehidupan yang sesuai dengan adat, agama dan juga negara. Penerapan budaya yang kurang optimal di masa-masa keemasan perkembangan otak anak ini sungguh disayangkan karena itu berarti kita telah membuang suatu kesempatan emas untuk memberikan warisan terindah bagi anak-anak itu.
Kenapa enkulturasi?
Menurut John Bedley, seorang anak tidaklah langsung terlahir dengan menguasai suatu kebudayaan, tetapi sebenarnya mereka itu harus mempelajari kebudayaan. Sebagai contoh seorang anak atau bayi yang baru lahir harus belajar dulu untuk berbicara dan menguasai sebuah bahasa juga dia harus mematuhi peraturan yang berlaku di masyarakat di mana dia tinggal. Di berbagai tempat, semua orang haruslah belajar untuk bisa hidup mandiri, mencari makan dan menyiapkan makan sendiri, membuat tempat perlindungan untuk dirinya sendiri. Di tempat lain, orang-orang harus belajar untuk mencari nafkah dan menghidupi dirinya sendiri. Di semua tempat, anak-anak belajar tentang kebudayaan dari


orang dewasa, Antropolog menyebut hal ini sebagai enkulturasi atau perpindahan budaya atau transfer budaya.[1]
Upaya enkulturasi merupakan suatu proses yang panjang. Untuk hanya belajar bahasa saja yang merupakan bagian terpenting dari enkulturasi sudah membutuhkan waktu bertahun-tahun. Suatu keluarga biasanya ada yang melindungi dan juga melakukan enkulturasi terhadap anaknya sampai usia anak itu kurang lebih lima belas tahun, walaupun ada juga keluarga yang melakukan hal serupa dalam waktu yang berbeda, misalnya saja di Indonesia kebanyakan keluarga biasanya mempunyai tanggung jawab untuk melakukan hal yang serupa sampai anak tersebut lulus dari sekolah lanjutan tingkat atas atau sekolah yang setara. Dan setelah itu anak-anak itu telah menginjak masa balignya, mereka sekarang telah memiliki suatu kebebasan untuk mengatur hidupnya sendiri. Tetapi orang-orang juga ada yang masih terus belajar selama hidupnya sehingga orang-orang akan menghormati mereka karena kesungguhannya dalam belajar. Tetapi tidak semuanya dapat berkembang sesuai dengan harapan orang pada umumnya, akan ada anak yang akibat dari kesempatan emas yang dia miliki itu tidak dikembangkan secara optimal dan akhirnya menjadikan perkembangan anak itu menjadi tidak optimal pula.
Permasalahan
            Permasalahan yang kemudian muncul saat ini sebenarnya bukanlah tentang orang tua yang tidak bisa memanfaatkan enkulturasi dengan baik, karena sebenarnya seperti yang dikatakan oleh John Bodley dalam artikelnya bahwa di semua tempat, anak-anak belajar tentang kebudayaan dari orang dewasa.[2] Maksudnya adalah anak-anak akan secara otomatis meniru budaya orang-orang dewasa yang berada di sekitarnya, hal ini terbukti dengan adanya anak kecil usia balita di Indonesia yang merupakan balita perokok termuda di dunia. Ini akibat dari kelakuan orang-orang dewasa di sekitar balita tersebut yang memiliki kebiasaan merokok, di samping itu juga kurangnya kesadaran dari pihak orang-orang dewasa tersebut bahwa perilaku yang mereka perbuat di hadapan anak-anak akan menjadi tuntunan bagi anak tersebut.
            Ada juga permasalahan lain yang mungkin muncul, permasalahan ini adalah ketika anak kecil yang seharusnya memiliki budaya A karena dia tinggal di tempat A tetapi karena orang tuanya tidak menginginkan anak itu memiliki budaya A maka anak kecil itu di enkulturasi dengan budaya B, hal ini akan menjadi masalah ketika anak itu dewasa atau ketika dia akan melaju ke tahap asimilasi dan dia akan kebingungan dengan dirinya sendiri karena budayanya berbeda dengan budaya orang di sekitarnya walaupun hal ini masih bisa ditanggulangi oleh anak itu sendiri tetapi masalah ini bisa menimbulkan hilangnya suatu kebudayaan yang ada, misalkan karena anak itu belajar budaya B maka budaya A ini menjadi terancam keberadaannya.
            Permasalahan ketiga yaitu ketika anak yang tidak melalui proses enkulturasi yang maksimal kemudian dia belum siap untuk berinteraksi dengan yang lainnya tetapi karena waktu anak itu sudah tiba maka akan terjadi culture shock karena anak itu tidak mengerti atau tidak mengetahui ada kebudayaan yang aneh di luar sana yang dimiliki misalnya oleh teman-temannya, hal ini dapat berpengaruh pada mental anak tersebut, bisa jadi anak itu minder tetapi bisa juga anak itu menyesuaikan diri apabila tingkat culture shock-nya masih bisa dia tanggulangi sendiri.
            Secara garis besarnya permasalahan yang dapat ditimbulkan dari kurang optimalnya enkulturasi yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak akan menimbulkan dampak yang negatif terhadap anak baik itu mental maupun cognitif-nya hal itu juga akan memberikan dampak negatif pada kelanjutan budaya yang seharusnya dapat terus dikembangkan oleh anak itu.
Strategi
            Satu strategi yang paling awal yang paling bisa dilakukan adalah dengan cara mempelajari lima dimensi budaya seperti yang ditulis oleh Gert Jan Hofstede dkk., yaitu identitas (identity), hierarki (hierarchy), gender, kepercayaan (truth), kebaikan (virtue) dan juga sikap sadar (awareness), pengetahuan tentang budaya (knowledge) dan juga kemampuan untuk berbudaya (skill).[3] Karena setelah dikaji lebih dalam lagi, hal itu akan menjadi penting karena merupakan pokok dari cross culture understanding. Lima identitas itu merupakan dimensi-dimensi budaya yang bisa membedakan satu budaya dengan budaya yang lainnya, dengan mengetahui dimensi tersebut maka akan timbullah perasaan atau sikap kesadaran (awareness) dari yang mempelajarinya, dan dengan telah menguasai ke lima dimensi pokok budaya tersebut maka berarti telah memiliki pengetahuan (knowledge) tinggal belajar bagaimana untuk menyikapinya dan mempraktekkan kesemuanya itu (skill).
            Selain menguasai tentang teori cross culture understanding seperti di atas maka orang tua juga harus tahu tentang tahapan-tahapan perkembangan anak. Seperti yang ditulis Ross A. Thompson bahwa walaupun manusia itu berkembang seumur hidupnya tetapi masa anak baru lahir sampai anak-anak remaja adalah masa perkembangan yang paling spektakuler,[4] karena pada masa ini perkembangan terjadi pada fisik, intelektual, sosial dan emosional. Selama periode perkembangan ini seorang bayi yang masih sangat rentan ini berkembang menjadi seorang pribadi yang memiliki kemampuan khusus, kepintaran intelektual dan sosial yang khusus pula.[5] Karena itu peranan orang tua di sini sebagai pendukung kehidupan utama dari anak itu, dan dari orang tua jugalah anak itu akan pertama kali belajar tentang budaya dan segala aspek kehidupan lainnya. Dan dengan mengetahui perkembangan anak maka orang tua dapat merancang suatu program untuk mendidik dan meenkulturasi anaknya sebaik mungkin sesuai dengan perkembangan anak tersebut.
            Seperti yang telah dikaji dalam alinea permasalahan di atas maka kita bisa melihat bahwa hal yang bisa menjadikan enkulturasi anak bermasalah adalah adanya pihak masyarakat atau orang dewasa di sekitar anak itu yang tidak mempunyai kesadaran dalam dirinya, mereka tidak sadar berperilaku seenaknya tanpa memperhatikan bahwa perilaku mereka itu sebenarnya merupakan sumber bahan kajian anak-anak yang bisa anak-anak itu tiru dan serap sehingga menjadi bagian atau menjadi budaya dari anak tersebut. Soerjanto Poepowardojo menyebutkan untuk menimbulkan kesadaran manusia itu maka perlu dikembangkan empirisme sebagai orientasi yang terarah pada gejala-gejala objektif dan merumuskannya secara kuantitatif. Di samping itu, empirisme harus disertai rasionalisme, di mana akal budi mampu mengambil jarak terhadap objeknya dan melalui abstraksi mampu merumuskan hasil pengetahuannya dalam prinsip-prinsip yang universal. Dengan struktur pemikiran yang objektif ini, manusia mampu memahami hukum-hukum alam dan merumuskannya dengan teliti.[6] Dan walaupun begitu pada zaman yang telah modern sekarang ini masyarakat lebih percaya terhadap ilmu sains, oleh karena itu kita juga bisa melibatkan psikiater anak untuk diajak bicara sebagai sumber sehingga bila ada masyarakat di sekitar yang masih belum sadar juga bisa menjadi sadar dengan adanya bantuan dari ahlinya.
            Satu hal lagi yang perlu disadari oleh para orang tua, hal itu adalah konsep pembangunan model modernisasi yang sekarang sedang gencar di mana-mana, memang hal ini dapat memberikan keuntungan berganda, menetes ke lapisan bawah melalui peningkatan pendapatan Negara. Dan dengan logika seperti itu kemiskinan diyakini akan berangsur-angsur dapat dikurangi, namun sebenarnya dibalik itu ada suatu hal yang terjadi bagi dunia negara ketiga, geliat modernisasi justru menjerat mereka dalam bentuk kesulitan yang lain. Modernisasi ternyata telah melahirkan fenomena ketergantungan dunia ketiga (miskin) kepada negara maju.[7] Di sisi lain, ketimpangan hasil pembangunan di berbagai daerah yang saling berjauhan terjadi kesenjangan yang tidak dapat dihindarkan, hal ini penting bagi  orang tua untuk mengurangi dampak memburuknya ekonomi terhadap perkembangan buah hati mereka di masa yang akan datang, oleh karena itu walau orang tua mengurus anaknya tapi jangan dilupakan juga tentang biaya hidup dan juga biaya untuk masa depan anak tersebut ke depannya.
Kesimpulan
            Enkulturasi adalah proses pengenalan budaya kepada anak yang dilakukan secara bertahap dan dalam waktu yang cukup lama, proses enkulturasi ini mencakup segala aspek budaya seperti bahasa, adat, kebiasaan dan juga pengetahuan. Masa kanak-kanak merupakan masa-masa emas perkembangan anak dalam berbagai bidang, sosial, fisik, psikologi, dan juga kognitifnya; sungguh sayang apabila masa-masa emas anak ini tidak bisa kita optimalkan maka yang terjadi adalah ke sia-siaan. Oleh karena itu seperti yang telah dikutip dari Exploring Culture maka penting bagi orang tua dan juga orang di sekitar anak dan juga masyarakat secara keseluruhan untuk memberikan suatu kesempatan untuk memperbaiki masa depan dunia dengan cara sadar diri dan memberikan segala daya yang bisa diperbuat untuk sang buah hati tercinta. Jangan sampai budaya kita hilang atau juga jangan sampai budaya kita malah menjadikan anak kita itu menderita.



[1] Bodley, John H. "Culture." Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.
[2] Bodley, John H. "Culture." Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.
[3] Hofstede, Gert Jan. Exploring Culture: Exercises, Stories and Synthetic Cultures/Gert Jan Hofstede, Paul B. Pedersen, Geert H. Hofstede. Intercultural Press. New York. 2002.
[4]Microsoft Encarta.2008
[5]Microsoft Encarta.2008
[6] Poespowardojo, Soerjanto. Strategi Kebudayaan: Suatu Pendekatan Filosofis. Gramedia. Jakarta. 1993.
[7] Fauzia, Amelia. Realita dan Cita Kesetaraan Gender di UIN Jakarta/Amelia Fauzia, Lisa Noor Humaidah, Noryamin Aini, Yuniyanti Chuzaifah. McGill-IAIN-Indonesia Social Equity Project. Jakarta. 2004.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar