Sosiolinguistik adalah bidang ilmu antar disiplin
yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam
masyarakat.
Kegunaan sosiolinguistik adalah memberikan
pengetahuan tentang bagaimana menggunakan bahasa. Sosiolinguistik menjelaskan
bagaimana menggunakan bahasa itu dalam aspek atau segi sosial tertentu, seperti
dirumuskan Fishman (1967:5)bahwa yang dipersoalkan dalam sosiolinguistik
adalah, “who speak, what language, to whom, when, and to what end”. Bila di
kehidupan praktis kegunaan sosiolinguistik adalah untuk membantu menggunakan
bahasa, ragam bahasa, atau gaya bahasa yang tepat bila digunakan dengan
berbagai orang yang berbeda; dalam pengajaran bahasa di sekolah,
sosiolinguistik juga mempunyai peranan besar. Sosiolinguistik juga dapat
memberi sumbangan dalam mengatasi ketegangan politik akibat persoalan bahasa.
Hubungan bahasa dan tingkatan sosial masyarakat
bisa dijelaskan dengan terlebih dulu mengerti tentang apa itu tingkatan sosial
di dalam masyarakat itu. Adanya tingkatan sosial di dalam masyarakat dapat
dilihat dari dua segi: pertama, dari segi kebangsawanan, kalau ada; dan kedua,
dari segi kedudukan sosial yang ditandai dengan pendidikan dan perekonomian
yang dimiliki. Misalkan saja di jawa, di sana masih terdapat sistem
kebangsawanan dan di setiap strata sosialnya itu menggunakan ragam bahasa yang
berbeda.
Berbagai variasi bahasa menurut penuturnya dapat
dibedakan sebagai berikut, idiolek, dialek, kronolek, dan sosiolek; secara
lebih lanjut pembagian variasi bahasa itu adalah akrolek (dialek yang dianggap
lebih tinggi), basilek (dialek yang dianggap kurang bergengsi), vulgar (kurang
terpelajar), slang (dialek yang bersifat khusus dan rahasia), kolokial (variasi
bahasa percakapan), jargon (variasi bahasa terbatas oleh kelompok tertentu),
argot (khusus dan terbatas pada profesi tertentu), dan ken (bahasa yang memelas
seperti bahasa peminta-minta).
Bilingualisme dan diglosia (suatu situasi yang
seimbang di mana dua ragam bahasa dipakai) itu saling berkaitan, walaupun keduanya
tidak harus selalu ada dalam setiap kesempatan.
Alih kode adalah di mana seseorang mengganti ragam
bahasa yang dipakainya dengan ragam bahasa yang lain, sedangkan campur kode
adalah penggunaan dua ragam bahasa dalam satu tindak tutur.
Langage adalah bahasa pada umumnya, bukan
merupakan suatu bahasa secara khusus. Langue adalah sebuah sistem lambang bunyi
yang dipakai suatu masyarakat tertentu, atau dalam kata lain bahasa secara
khusus. Sedangkan parole adalah sikap konkret dari langage dan langue, atau
dengan kata lain adalah pengucapan atau tindak berbahasa.
Interferensi dan integrasi sangat berkaitan dengan
alih dan campur kode, dan keduanya juga merupakan akibat dari adanya
bilingualisme dan diglosia. Interferensi ialah campur kode di mana penggunaan
ragam bahasa lainnya itu merupakan suatu kesalahan dan penyimpangan karena
menyalahi aturan tata bahasa, biasanya ini terjadi karena penutur memiliki
kompetensi yang masih minim, misalkan dalam pembendaharaan kata, di bahasa
keduanya (B2). Sedangkan integrasi adalah proses di mana suatu bahasa diserap
ke dalam bahasa lain dengan dalih masih kurangnya pembendaharaan kata di pihak
resipien.
sumber : Chaer, Abdul. Psikolinguistik ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar